MENGAPA MEMBANGUN MAKAM, TUGU? MENGHARAPKAN BERKAT. (2)

#PembangunanTugu

1. Alasan lain yang diberikan untuk membangun makam atau tugu leluhur adalah soal BERKAT, atau PASU-PASU. Pelaku pembangunan makam meyakini bahwa dengan membangun makam, atau tugu maka sumangot (arwah) ompung (leluhur) akan memberkati keturunannya.

2. Sehubungan dengan itu, salah satu doa yang sering kita dengar pada pembangunan makam adalah, “Sai mamasu-masu ma sahala (roh) ni ompung di hami sude pomparanmu”. (Kiranya roh leluhur memberkati kami semua keturunanmu”. Seringkali juga doa itu disertai dengan persembahan semacam sesajen kepada roh (roh-roh) yang diyakini hadir pada saat acara tsb.

3. Siapakah yang tidak menghendaki berkat? Jika alasan ini digabungkan dengan alasan pertama, menghormati orang tua, maka tentu keturunan akan semakin semangat melakukannya. Terlebih, itu dianggap sebagai perintah Tuhan, yang menyenangkan hati Tuhan (HT 5).

4. Bagi keturunan yang sudah diberkati, melimpah harta, ini menjadi kesempatan bersyukur, mandok mauliate kepada orang tua (baca: roh orang tua). Siapa berani tidak terlibat mendukung? Siapa yang tidak merindukan lebih diberkati? “Ai so boanonmu mate arta mi. Ingot patik palimahon i. ” (Kau tidak akan membawa mati hartamu. Ingat HT ke-5), demikian kira-kira tantangan para motivator pembangunan.

5. Bagi keturunan yang masih belum merasa diberkati, misalnya, belum menikah, belum ada pekerjaan yang baik, belum dapat anak... diyakini, bahwa itu menjadi kesempatan emas untuk memohon berkat, akan segera dapat jodoh, pekerjaan, dan anak.

Benarkah pemahaman itu?
6. Apakah Alkitab pernah mengajarkan bahwa orang mati dapat memberkati orang hidup? (bandingkan Luk. 16:24-26), di mana di sana ditegaskan adanya jurang yang tidak terseberangi antara orang hidup dan mati.

7. Apakah ada sumber berkat di luar Allah?
Jangankan setelah meninggal, ketika hidupnya pun, orang tua, ompung tidak pernah menjadi sumber berkat. Sesungguhnya, hanya Allah sumber berkat. KepadaNya kita berharap. Itulah yang diserukan oleh nabi Yeremia terus menerus kepada umatNya di Perjanjian Lama. Agar jangan memohon berkat kepada yang lain, dewa-dewa atau roh nenek moyang. Juga jangan pernah mengandalkan kekuatan kuda, atau raja. Dengan sangat jelas, nabi Yeremia menyerukan:
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya kepada Tuhan..” (Bandingkan Yer.17:7).
Sebaliknya, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, mengandalkan kekuatanNya sendiri, yang hatinya menjauh dari Tuhan” (Yer.17:5).

8. Jadi, kita menemukan berbagai pemahaman yang keliru dan menyesatkan dari pemahaman yang mungkin tidak disadari di atas. Pertama, orang mati tidak mungkin memberi berkat. Selama hidupnya pun demikian. Orang tua hanya alat memohon berkat. Ingat lagu: Tangiang ni Dainang i. Allah mengabulkan, jika orang tua tsb hidupnya benar (Yak.5:16b). Jika tidak, misalnya, hidup dalam dosa, perdukukan, doanya tidak akan dijawab! Kedua, tidak ada relasi antara orang hidup dan yang meninggal, semua sudah selesai. Melakukan relasi, dosa. Ketiga, melanggar Firman Allah, ketika menjadikan pribadi lain menjadi sumber berkat, bukan Allah sendiri.

9. Jadi, tidak heran, setelah pesta makam atau tugu, bukan berkat yang datang, tapi kutuk! Misalnya, dikabarkan salah seorang petinggi yang merupakan salah satu donatur besar tugu tertentu, tidak lama kemudian, masuk penjara! Ada lagi petinggi lain, jatuh ke jurang setelah pesta makam. Ada lagi kisah-kisah sedih lainnya.

10. Apakah itu kebetulan, atau berhubungan dengan larangan Allah yang dilanggar tersebut di atas? Mari kita jawab masing-masing.(bersambung)