KURSUS GRATIS BAHASA BATAK

Rekan2 ytk, prihatin dan sedih membaca makin kacau penulisan bahasa Batak. Apakah masih mau dipelihara? Jika ya, semua harus bekerja sama. Mari kita mulai.

1. Penulisan bahasa Batak beda dengan pengucapan.
Contoh sederhana:
- Huruf "m", "ng", "n" tidak diucapkan. Jadi pengucapannya mengikuti huruf terdekatnya. Contoh:
- ditulis, "ompung", dibaca "oppung".
- ditulis "sungkun" (tanya), dibaca "sukkun". "tingkos" (benar), dibaca "tikkos".
- Nandigan (kapan, waktu lampau), dibaca "naddigan". Demikian juga "Andigan" (Kapan, future), dibaca "addigan".

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah mengucapkan "inang-inang". Memakai tata bahasa Indonesia, ibu (inang) maka untuk jamak adalah ibu-ibu.

Tapi itu salah!
Dalam bahasa Batak, inang-inang berarti istri. Kadang, ucapan itu juga merendahkan, bisa bermakna gundik. Jadi, tolong hati-hati mengucapkan istilah itu. Bagi telinga yg sangat akrab dengan bahasa Batak, kata2 itu sangat kasar! Apalagi ketika ditujukan kepada ibu-ibu Batak yang sedang berkumpul, misalnya. Cara menyapanya adalah "Sude inang" (semua ibu), atau "angka inang" (ucapkan akka inang).

Untuk menyatakan jamak, dalam tara bahasa Batak, bukan diulang. Tapi dengan cara di atas. Angka guru (akka guru), guru2, sude guru (semua guru).

Pengulangan kata dalam bahasa Batak mengubah makna kata awal (dasar) kepada yang lain.
(Bersambung)