Jakarta, 28 Juni 2016
Nomor : 20.49/PHN/Ptas/VI/2016
Lampiran : Pembahasan dan Tanggapan
Hal : TANGGAPAN PERKANTAS ATAS 14 BUTIR SURAT PASTORAL PGI
tertanggal 28 Mei 2016

Kepada Yth,
Majelis Pekerja Harian PGI
Up :
1. Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang, Ketua
2. Pdt. Gomar Gultom, Sekretaris Umum

Saudara-saudaraku yang karena satu dan lain hal terlibat dalam perilaku LGBT, apa kabar kalian? Sebagaimana saya berkali-kali tuliskan dalam wall ini, saya mau mengulanginya buat meyakinkan kalian dalam beberapa hal :

1. Saya setuju bahwa sebagai manusia, kalian adalah ciptaan Tuhan.

2. Sebagai ciptaanNya, kami harus mengasihi kalian. Saya pribadi sudah bersentuhan dengan pelaku LGBT di sekitar tahun 1972-1973. Jadi, bukan hal baru lagi. Saya sudah beberapa kali mendoakan dan melayani pelaku LGBT.

3. Namun, bersama dengan banyak umat Tuhan lainnya, seperti HKBP, yaitu salah satu jemaat terbesar dalam lingkungan Lutheran sedunia dan terbesar dalam anggota PGI, juga gereja Katolik (KWI), saya harus tetap mengatakan, perilaku LGBT itu adalah dosa (Roma 1:26-27).

MERESPONI 14 BUTIR SURAT PASTORAL PGI, 28 Mei 2016
A.n. MPH-PGI. Pdt. Dr. Henriette dan Pdt. Gomar Gultom

Pengantar:
1.Rekan-rekan Ytk, saya menggunakan judul Quo Vadis PGI?, ke-II adalah untuk membedakan artikel yang saya tulis di dalam buku saya, Rahasia Hidup Bahagia, artikel 71. Ketika itu, dikatakan adanya percepatan Sidang Raya ke-14, karena dicurigai adanya penyimpangan moral dari pimpinannya.

2.Apa yang terjadi kini? Sebagaimana saya tulis dalam status Facebook saya pada tanggal 21 Juni 2016 yang lalu, sebenarnya hal yang sama harus dilakukan kepada Pimpinan PGI yang sekarang. Alasannya, bukan masalah penyimpangan moral, tetapi lebih berat lagi, penyimpangan ajaran.

3.Setelah tiga hari ini saya memposting soal Surat Pastoral PGI, saya bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada semua saudara atas respons yang diberikan. Sungguh, respons itu di luar dugaan saya. Sebagai contoh, artikel berjudul SURAT TERBUKA KEPADA SEKJEN PGI. Status itu ditanggapi lebih ramai lagi: 579 likes, 181 comments dan 260 shares. Sungguh, itu adalah jumlah yang tidak sedikit.

Kebangkitan Kristus merupakan keunikan dan keistimewaan Kekristenan yang tidak dapat disejajarkan dengan agama dan kepercayaan mana pun. Karena itu, nampaknya ada kelompok yang mencoba menggugat ajaran tersebut.
Apakah kebangkitan Kristus perlu dibuktikan? Sebelum seseorang membuktikannya, perlu kita perhatikan bahwa masalah penolakan kepada kebangkitan Yesus, bukanlah karena kekurangan bukti. Sesungguhnya, masalah utama bukan pada kurangnya informasi yang dimiliki untuk menerima kebangkitan tersebut, tetapi terletak kepada kurangnya kemampuan mengimani semua informasi yang ada.

Ini adalah satu kenyataan yang tidak dapat disangkal, bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dari perspektif kebangkitan Yesus Kristus. Sebenarnya, apa yang dituliskan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, khususnya Matius, Markus, Lukas dan Yohanes merupakan bukti nyata dan konkrit, sesuai dengan fakta dan realita yang mereka alami sendiri. Fakta-fakta itu juga yang disodorkan oleh rasul Paulus dalam 1Kor.15, yaitu satu pasal  yang sedemikian jelas dan gamblang menguraikan fakta kebangkitan Kristus serta implikasi dari kebangkitan tersebut.

Selamat siang saudaraku Gomar Gultom, apa kabar? Apakah masih sempat membaca respons umat di FB saya? Saya sengaja tag kepadamu agar seperti kata lagu, katakanlah sejujurnya. Di sana sudah lebih 250 respons yang menolak surat Pastoral PGI! Mereka menyatakan berbagai macam kekecewaan, sedih dan marah. Tolong diketahui bahwa kita juga paham soal Alkitab. Jadi janganlah ditulis di sana bahwa kita salah tafsir Alkitab. Tambahan lagi, apakah PGI tidak membaca Surat Penolakan dari Katolik (KWI) dan PBNU, sebuah organisasi terbesar Islam? Apakah rekan2 di Katolik dan Islam lebih memahami maksud Allah dari MPH PGI?

Saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan studi sampai tingkat doktor. Itu dilakukan di Kampus-kampus bermutu tinggi di luar negeri. Bukan hanya di TTC Singapura tapi juga di tempat-tempat lain tempat studi Biblika terbaik dunia, seperti Cambridge, dll. Bidang saya, seperti anda tahu adalah Biblika, bukan dogmatika, juga bukan misi atau praktika. Jadi, soal memahami teks-teks, seperti yang dikutip dalam surat pernyataan itu, termasuk Roma 1:26-27, kita paham kok. Itu jelas melawan LGBT. Jadi sejak Kejadian 1:27, Alkitab tidak berubah. Jadi saya harap, jangan mau disesatkan oleh ilmu-ilmu lain yang dapat menyesatkan. Tetaplah dengar dan taat kepada Alkitab, SATU-SATUNYA SUMBER OTORITAS BUAT KITA.

Page 2 of 5