1. Kamis lalu, dalam perjalanan ke rumah saya dengar 2 atau 3 orang ceramah dari radio RPK. Mereka semangat sekali. Rame. Kalau nggak salah, salah satu namanya JT.

2. Dengan semangat JT menyerang pemahaman adanya Pdt, teolog yg mengatakan Allah Anak. "Apa itu Allah Anak? Yang benar adalah Anak Allah. Itu yang Alkitabiah...", demikian kira2 seruan JT.

3. Terus terang, saya kecewa! Yang memahami teologia dengan baik, pasti tidak setuju dengan JT. Tapi yah, begitulah mungkin dia diajar dosennya. Sekitar 5 tahun lalu, saya juga sudah baca artikel atau tulisan YR, mantan Muslim, mengatakan hal yg sama.

4. Benar, di Alkitab tidak ada Allah Anak, yang ada adalah Anak Allah. Tapi itu tidak berarti salah. Di Alkitab juga tidak ada istilah Allah Tritunggal. Apakah itu salah? Yang penting ajaran itu ada, meski istilahnya tidak ada.

5. Mengapa disebut Allah Anak? Karena Anak Allah itu adalah Allah juga, oknum kedua Tritunggal.
Maka, untuk membedakannya dengan Allah oknum pertama, disebutlah Allah Anak. Sedangkan oknum pertama, Allah Bapa.

Semoga jangan terlalu cepat menertawakan orang lain. Mungkin kita sedang menertawakan diri sendiri. Karena ternyata ilmu kita belum nyampe ke sana. Kalau di kampung dulu disebut: "Ndang sahat dope hali-halim tu si". (Perhitungan kali-kalian nya belum nyampe" :)

Cat: selingan agar tidak terus mikirin Covid19

COVID19 PERSIAPAN MASA ANIAYA?
#HancurkanCovid19
#PutusMataiRantaiPenularan

1. Selamat beribadah saudara2ku semua, baik yang di rumah, maupun di mana saja.

2. Kemarin saya mengusulkan pembacaan Kisah Rasul 8:1-8. Kita akan merenungkan ini bersama Mat.14:22-33.

1. Rekan2 ytk, hari Minggu yang lalu, banyak Gereja telah melakukan ibadah di rumah (keluarga). Hal itu mengikuti himbauan pemerintah. Ibadah keluarga dilakukan dengan dua macam cara: mengikuti live streaming atau ibadah online, atau melakukan ibadah sendiri dengan liturgi dan waktu sendiri. Namun, ternyata ada juga yang tetap mengadakan ibadah di Gereja dengan mengatur jarak serta melakukan tindakan pencegahan penularan lainnya.

2. Mengapa harus mempertahankan ibadah di Gereja? Apakah itu karena kesulitan mengubah kebiasaan, tradisi, yang sudah rutin bertahun-tahun? Jika ini alasannya, dapat dimaklumi.

KE GEREJA BELUM TENTU = BERIBADAH

1. Bagi yang terbiasa beribadah di Gereja, memang merasa sesuatu yg kurang jika tidak ke Gereja.

2. Namun demikian, perasaan, bukan iman. Perasaan harus dilatih agar tunduk kepada iman.

3. Satu kisah nyata. Ketika saya bertahun-tahun melayani di HKBP Singapura (selama studi di sana), ada yang mengeluh. "Amang, bagaimana pendapat Amang, kata si X di sini dia TDK MERASAKAN ada Roh Kudus. Karena itu, dia pindah ke Gereja Y". Saya menjawab, "Hadirnya Roh bukan karena perasaan. Itu janji Tuhan, di mana 2 stay 3 orang berkumpul DALAM NAMANYA Dia hadir. (Mat. 18:20).

Dengan mempertimbangkan situasi global terakhir penyakit COVID-19 menjadi pandemi dengan total kasus yang terkonfirmasi di berbagai negara 179.111 kasus dan 7426 meninggal (per 17 Maret 2020, WHO Covid-19 Situation Report-57). Dan dengan mempertimbangkan status Bencana Nasional Covid-19 di Indonesia dengan jumlah kasus 227 kasus terkonfirmasi, 11 sembuh dan 19 meninggal dunia (per 18 Maret 2020), Perkantas terpanggil untuk melakukan aksi dukungan kepada ODP atau PDP Covid-19 secara khusus mereka yang ada dalam lingkar internal pelayanan Perkantas baik di nasional maupun di daerah.

Page 10 of 17