PENTINGNYA BELAJAR TEOLOGIA DGN BENAR
Oleh. Pdt. Dr.Ir. Mangapul Sagala, M.Th
#NabiPendetaPalsu
#UjiAjaran

1. Saya mau mengingatkan semua anak2 Tuhan, yang mengasihi Tuhan & umatNya agar kita terus saling mendoakan, mengasihi, menguatkan. Jangan biarkan iblis -sadar atau tidak- memecah umatNya. Sebab sebenarnya, itulah esensi doa Tuhan Yesus lebih dari dua ribu tahun lalu: "Agar mereka semua menjadi satu, sama seperti kita adalah satu...agar dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yoh.17:20-22).

[3/31, 7:45 PM] Carmelia PAK UI: Maaf, apa krn sepi pemberitaan atw gmn ya? Ada yg tanya, knp covid 19 lbh bnyk menelan pendeta drpd pimpinan agama lain? Ada yg bs bantu jawab? selain jwbn: itu otoritas sang pemilik hidup?

[3/31, 7:51 PM] Vicke: Terus terang, sejak awal saya curiga bahwa setan telah memakai kondisi ini. Tandanya, semua yg melemahkan relasi dengan Allah, melemahkan relasi sesama, itu bukan dari Roh Kudus. Setelah mengamati relatif banyaknya hamba Tuhan, pelayan Tuhan yg meninggal, maka saya makin yakin akan hal itu. Jadi, jika keyakinan ini benar, mari semua pendoa syafaat, laskar2 Allah dalam doa melakukan doa peperangan. Maksudnya bukan hanya memohon agar Allah melindungi kita. Tapi berdoa melawan, memutus, mematahkan kuasa si setan. Kita minta agar Tuhan Allah mengirim malaikat2 pelindung menghancurkan semua panah api si jahat yang diarahkan kepada umat & hamba2Nya.

1. Mohon maaf berjuta maaf, kali ini secara jelas & tegas saya menulis judul di atas. Itu dari KISAH NYATA, bagaimana puluhan ribu nyawa melayang karena Covid19! Jika semua dibaringkan di satu tempat, maka Istora Senayan pun tidak cukup. Namun demikian, jangan takut. Itulah perintah Tuhan Yesus yang saya bagikan melalui status saya ini sejak awal. "TENANGLAH, AKU INI, JANGAN TAKUT", demikian Sabda Yesus.

2. Pada ibadah KBD hari Minggu 1 Maret 2020 lalu, saya dengan sangat serius mengingatkan agar hati2, nampaknya si jahat, setan, telah memakai virus Covid19 untuk melemahkan umat Tuhan serta pekerjaanNya.

3. Alasan saya ketika itu adalah bahwa setiap kekuatan, dari manapun asalnya, jika itu melemahkan umat Tuhan & pekerjaanNya, pasti bukan berasal dari Roh Allah.

Oleh. Pdt. Dr. Ir. Mangapul Sagala, M.Th*

1. Sekitar tiga tahun lalu, istri saya mengalami rasa sakit parah di lehernya. Begitu parah, sehingga dia TIDAK DAPAT menggerakkan lehernya. Saya berkata, "Mengapa makin parah begitu?" Dijawab: "Entahlah, kayaknya karena ini...sambil menyebut sesuatu. Atau mungkin juga karena salah tidur..."

2. Biasanya, istri saya yang sangat rajin mengajak saya jogging (jalan) di pagi hari. Dia begitu disiplin. Tapi masih kalah dari mertua saya, Bpk. W. Siahaan (alm) yang sekalipun turun hujan tetap jalan pagi & sore. "Lho, kok pakai sepatu, Amang? Ini hujan". Dengan santai dijawab: "Ai boha huroha. Adong do payung".

3. Akibat tiga hari berturut-turut tidak jalan pagi, kami putuskan pagi ke-4 ke ahli syaraf, Dr (dr) Yusak Siahaan di rumah sakit terkenal, Siloam. Karawaci. Sampai begitu jauh, padahal rumah kami dikelilingi banyak dokter dan RS. Itu dilakukan demi penanganan yg terbaik. Jangan sampai penyakit itu dimanfaatkan dokter2 tertentu. Habis uang, belum tentu ada hasil (maaf kepada dr yang baik). Jika di Siloam, kami sedia bayar berapa saja, asal itu harus & benar.

1. Kamis lalu, dalam perjalanan ke rumah saya dengar 2 atau 3 orang ceramah dari radio RPK. Mereka semangat sekali. Rame. Kalau nggak salah, salah satu namanya JT.

2. Dengan semangat JT menyerang pemahaman adanya Pdt, teolog yg mengatakan Allah Anak. "Apa itu Allah Anak? Yang benar adalah Anak Allah. Itu yang Alkitabiah...", demikian kira2 seruan JT.

3. Terus terang, saya kecewa! Yang memahami teologia dengan baik, pasti tidak setuju dengan JT. Tapi yah, begitulah mungkin dia diajar dosennya. Sekitar 5 tahun lalu, saya juga sudah baca artikel atau tulisan YR, mantan Muslim, mengatakan hal yg sama.

4. Benar, di Alkitab tidak ada Allah Anak, yang ada adalah Anak Allah. Tapi itu tidak berarti salah. Di Alkitab juga tidak ada istilah Allah Tritunggal. Apakah itu salah? Yang penting ajaran itu ada, meski istilahnya tidak ada.

5. Mengapa disebut Allah Anak? Karena Anak Allah itu adalah Allah juga, oknum kedua Tritunggal.
Maka, untuk membedakannya dengan Allah oknum pertama, disebutlah Allah Anak. Sedangkan oknum pertama, Allah Bapa.

Semoga jangan terlalu cepat menertawakan orang lain. Mungkin kita sedang menertawakan diri sendiri. Karena ternyata ilmu kita belum nyampe ke sana. Kalau di kampung dulu disebut: "Ndang sahat dope hali-halim tu si". (Perhitungan kali-kalian nya belum nyampe" :)

Cat: selingan agar tidak terus mikirin Covid19

Page 10 of 18