[13] Beberapa Kondisi Utk mengerti Ketidakbersalahan Alkitab

Kita telah mencoba membahas berbagai pendekatan terhadap fenomena kesalahan yg kelihatannya ada di dalam Alkitab. Semua pendekatan tsb -kecuali pendekatan yang kelima- mencoba mencari jawaban atas adanya kesulitan serta fenomena kesalahan yg ditemukan di dalam Alkitab. Selanjutnya, bagi mereka yg menerima inerrancy Alkitab, ada empat hal yang perlu diperhatikan di dalam memahami ketidakbersalahan Alkitab tsb.

Pertama, inerrancy harus dimengerti dari apa yg dinyatakan atau ditegaskan oleh Alkitab, jadi bukan sekedar apa yg dilaporkan. Sebagai contoh, kalau terdapat perbedaan antara silsilah Tuhan Yesus yang ditulis di dalam Injil Matius dan Lukas, itu tidak berarti bahwa Alkitab salah, yaitu Injil Mat atau Luk. Akan tetapi, perbedaan itu harus dilihat dari apa yang mau dinyatakan atau disampaikan oleh kedua Injil tsb, yakni bahwa Yesus sungguh2 memiliki silsilah yang jelas, yang dpt ditelusuri sampai kepada nabi Daud, bapak leluhur Yesus secara jasmani. Dengan demikian, janji Allah kepada Daud, bahwa Dia akan membangun takhta yang kekal melalui keturunannya telah digenapi.

Kedua, kita harus melihat kebenaran Alkitab dalam konteks budaya di mana Alkitab itu dituliskan. Kita tidak boleh memaksa Alkitab utk ditulis dengan metode dan budaya kita, tetapi harus mengertinya dalam budaya Alkitab itu sendiri. Jadi, kalau misalnya dalam budaya kita, segala sesuatu harus dinyatakan dengan angka dengan tingkat ketepatan yang sangat tinggi, tidak demikian dengan budaya Alkitab.

Ketiga, penegasan Alkitab adalah sepenuhnya benar jika dilihat dari tujuan penulisannya. Kembali kepada contoh tentara Gideon tersebut di atas, apakah salah kalau Alkitab menuliskan adanya 32000 tentara? Kemudian, setelah melalui proses seleksi yang Allah perintahkan kepada Gideon maka yang tinggal hanya 300? Tentu kalau dilihat dari tujuan penulisan Alkitab, yaitu yang memberikan ide atau angka perkiraan tentang jumlah tentara yang mengikuti Gideon, maka hal tsb adalah benar. Sekali lagi kita ambil contoh laporan yg kita temukan dalam bulletin sebuah gereja. Jika dikatakan bahwa yang hadir dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani sebanyak 5000 orang, apakah memang jumlahnya persis demikian? Apakah jumlah itu merupakan perkiraan atau hasil sesungguhnya yaitu angka yang diperoleh dengan menggunakan counter, yaitu menghitung satu demi satu? Kembali kepada jumlah 32000, apakah jumlah tentara sebesar itu juga menggunakan counter atau sejenisnya?

Keempat, kalau kesulitan dalam Alkitab tdk dpt dijelaskan, maka hal itu tdk berarti terdapat kesalahan. Rasul Petrus juga mengakui bahwa dalam tulisan rasul Paulus ada hal-hal yg sukar dipahami (2Pet.3:16). Namun, Petrus tdk melihat hal itu sebagai kesalahan. Dmkn juga seharusnya sikap kita.

Kami seringkali membaca buku2 tafsiran yg ditulis oleh para ahli theologia. Setelah mereka mencoba menjelaskan ayat-ayat yang sulit, mk seringkali mereka menutup dgn kalimat spt berikut: "Kalau argumentasi kita tsb di atas benar, mk kita dpt menyimpulkan..." Dengan demikian, kita melihat bhw meskioun mrk ahli theologia, mrk tdk memutlakkan pandangan mrk. Mrk bahkan seringkali secara jelas mengatakan bhw ayat tsb sulit ditafsirkan. Mrk mengakui adanya data-data yg kurang utk dpt memberikan tafsiran yg cukup pasti. Mrk juga mengakui bhw jarak yg jauh antara mrk dengan wkt penulisan Alkitab menjadi faktor yg mempersulit penafsiran.

Demikianlah kiranya kita, juga dijauhkan dari sikap memutlakkan diri di satu sisi, dan juga tdk memutarbalikkan sesuatu yang tdk kita pahami dgn kemampuan spekulasi kita. Hal itu telah ditegaskan rasul Petrus ketika dia menulis:

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sbg kesempatan bagimu utk beroleh selamat, spt juga Paulus, saudara kita yg kekasih, telah menulis kepadamu... Hal itu dibuatnya dlm semua suratnya, apabila ia berbicara ttg perkara2 ini. Dalam surat2nya itu ada hal-hal yg sukar dipahami, shg orang2 yg tdk memahaminya dan yg tdk teguh imannya memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mrk sendiri" (2 Pet.3:15-16).
(Selesai)

Cat. Posting Alkitab selama ini kami ambil dari buku kami yg diterbitkan Perkantas dgn judul, Superioritas dan Keistimewaan Alkitab.