Infallibility dan Inerrancy Alkitab

Kita telah melihat bahwa infallibility Alkitab berkaitan dengan pesan Alkitab, bahwa Alkitab tidak akan menyesatkan pembacanya, sedangkan inerrancy berkaitan dengan ketepatan sumber Alkitab tersebut. Pada umumnya kaum Injili menerima kedua hal tersebut. Tetapi ada juga yang hanya menerima infallibility Alkitab dan menolak sifat inerrancynya. Ada juga yang menolak keduanya. Sebagai contoh, Karl Barth menolak kedua sifat tersebut. Bagi Barth, Alkitab ditulis oleh manusia yang bersifat salah. To err is human, demikian penegasan Barth. Karena itu, tidak terkecuali dengan Penulis-penulis Alkitab, mereka juga tidak luput dari kesalahan ketika menuliskan Alkitab tersebut. Di sisi lain, ada juga yang tidak mau menggunakan kedua istilah tersebut di atas. Mereka memberi istilah lain yaitu the trustworthiness of the Bible (Sifat Alkitab yang layak dipercaya).

2. Terdapat Kesalahan?

Memang benar, kepercayaan kepada inerrancy Alkitab bukanlah ajaran Alkitab itu sendiri. Keyakinan ini sebenarnya merupakan akibat wajar dari doktrin pengilhaman Alkitab, yaitu bahwa Alkitab itu diilhami oleh Allah. Kita sudah mengatakan di atas bahwa tidak ada penjelasan bagaimana proses pengilhaman itu terjadi. Alkitab hanya mengatakan bahwa "segala tulisan diilhami Allah". Lalu bagaimana dengan fenomena adanya kesalahan dalam Alkitab? Bagaimana kita menjelaskan adanya perbedaan keempat Injil? Sebagai contoh adalah Mark.6:8 dan Mat.10:9-10. Menurut Markus, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk membawa tongkat. Tetapi menurut Matius, Yesus melarang mereka untuk membawa tongkat. Lalu bagaimana kita menjelaskan adanya perbedaan angka-angka dalam Alkitab? Sebagai contoh, 2 Sam.10:18 ada 700 kereta berkuda, sedangkan menurut kitab paralelnya, 1 Taw.19:18 ada 7000.

Untuk mengatasi masalah ini theolog-theolog yang setia kepada Alkitab mencoba memberi jalan keluar.
Pertama, pendekatan abstrak.
Pendekatan ini diwakili oleh B.B. Warfield. Dia mengakui terdapat kesulitan dalam Alkitab, di mana dia telah berusaha untuk memecahkan sebagian dari kesulitan tersebut. Namun demikian, dia berpendapat bahwa tidak semua kesulitan dan yang hal dianggap kesalahan tersebut harus dijelaskan. Bagi Warfield, kenyataan bahwa Alkitab diilhami oleh Allah dan sebagai akibat wajarnya adalah ketidakbersalahan Alkitab (inerrancy)- telah cukup bagi kita. Maka adanya kesulitan tersebut tidak boleh melenyapkan ketidakbersalahan Allah.

Kita telah mencoba membahas berbagai pendekatan terhadap fenomena kesalahan yg kelihatannya ada di dalam Alkitab. Semua pendekatan tsb -kecuali pendekatan yang kelima- mencoba mencari jawaban atas adanya kesulitan serta fenomena kesalahan yg ditemukan di dalam Alkitab. Selanjutnya, bagi mereka yg menerima inerrancy Alkitab, ada empat hal yang perlu diperhatikan di dalam memahami ketidakbersalahan Alkitab tsb.

Pertama, inerrancy harus dimengerti dari apa yg dinyatakan atau ditegaskan oleh Alkitab, jadi bukan sekedar apa yg dilaporkan. Sebagai contoh, kalau terdapat perbedaan antara silsilah Tuhan Yesus yang ditulis di dalam Injil Matius dan Lukas, itu tidak berarti bahwa Alkitab salah, yaitu Injil Mat atau Luk. Akan tetapi, perbedaan itu harus dilihat dari apa yang mau dinyatakan atau disampaikan oleh kedua Injil tsb, yakni bahwa Yesus sungguh2 memiliki silsilah yang jelas, yang dpt ditelusuri sampai kepada nabi Daud, bapak leluhur Yesus secara jasmani. Dengan demikian, janji Allah kepada Daud, bahwa Dia akan membangun takhta yang kekal melalui keturunannya telah digenapi.

Kedua, kita harus melihat kebenaran Alkitab dalam konteks budaya di mana Alkitab itu dituliskan. Kita tidak boleh memaksa Alkitab utk ditulis dengan metode dan budaya kita, tetapi harus mengertinya dalam budaya Alkitab itu sendiri. Jadi, kalau misalnya dalam budaya kita, segala sesuatu harus dinyatakan dengan angka dengan tingkat ketepatan yang sangat tinggi, tidak demikian dengan budaya Alkitab.

Page 3 of 3