Masih Pentingkah Melakukan Misi?

Apakah pendapat spt Pinnock tsb di atas tidak memotong dan menghilangkan semangat orang untuk bermissi? Buat apa kita repot2 dan menanggung berbagai macam resiko yang membahayakan jikalau ada kemungkinan orang lain dalam agamanya utk diselamatkan? Jika dengan cara Allah sendiri, Dia sanggup mengaruniakan iman kepada orang2 yang tidak diinjili, apakah pekerjaan missi masih dapat dikatakan sangat penting? Bagaimana dengan Amanat Agung Tuhan Yesus? Apakah itu masih dapat dipandang sebagai hal yang sangat penting dan mendesak dilakukan?
Untuk itu Pinnock menganjurkan agar motivasi penginjilan itu dilakukan untuk mengobarkan api jaminan keselamatan dalam diri orang itu. Pinnock menulis: If would be conceptualized more broadly, in terms of proclaiming the good news of the kingdom of God, spreading the news about Jesus, and summoning people into the historically new pople of God. Everyone needs to hear about this, whether they have responded to premessianic light or not.

Setelah kita melihat kedua pandangan tsb di atas, mk kini tiba saatnya melihat pandangan yang ketiga, yaitu apa yang disebut dengan Eksklusivisme. Pandangan ini percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan.
Perlu diperhatikan bahwa kelompok Eksklusivisme atau disebut juga dengan Particularisme, masih bisa dibagi dua kelompok, yaitu: "Terbatas" dan "Tidak Terbatas ("restrictive and a nonrestrictive kind").

a. Kelompok restrictive particularist (R. Douglas Geivett and W. Gary Philips) melihat keharusan pengakuan pribadi kepada Yesus. Karena itu, setiap orang harus percaya dan menerima Yesus secara eksplisit agar diselamatkan. Jadi, kita melihat dua hal penting di sini. Pertama pengakuan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan. Kedua, adalah perlunya pengakuan secara eksplisit, percaya dan menerima Yesus. Ini berarti menyangkali kemungkinan seseorang dapat diselamatkan tanpa pengakuan yang sadar dan eksplisit kepada Yesus satu-satunya Juruselamatnya.

Penolakan kepada eksklusivisme:
Mengapa ada yang menolak eksklusivisme tersebut di atas? Banyak penyebabnya.

Pertama, karena tidak mau menerima pengajaran Alkitab sebagai satu-satunya sumber otoritas. Karena itu, mereka akan mengejek kelompok eksklusif (khususnya yang "Terbatas") dgn istilah "Bibliolater", penyembah2 Alkitab, padahal, kata mereka, Allah lebih tinggi dari pada Alkitab. Lalu bagaimana? Untuk itu kita perlu melihat penegasan Yesus berikut: "... harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" ( Luk.24:44).
Hal itu dinyatakan oleh Yesus untuk menjelaskan penderitaan dan kematianNya, di mana Dia dengan taat menjalaninya demi menggenapkannya. Jadi dalam pernyataan tsb bagaimana Yesus juga termasuk 'bibliolater', terlalu berpegang kepada kitab Musa dan Mazmur. Padahal, menurut kelompok tertentu, Musa dan Daud juga manusia biasa. Karena itu, tulisan2 mereka juga tidak luput dari kesalahan2. Karena itu menarik sekali memperhatikan komentar Prof. Donald Bloesch terhadap sikap Yesus tsb di atas, khususnya dalam kaitannya dengan Alkitab (Perjanjian Lama):"The absolute authority of faith, the living Christ Himself, has so bound Himself to the Sacred Scripture".[27]

Page 2 of 3