Pengantar

Penting untuk diketahui bahwa doktrin atau ajaran tentang Allah Tritunggal hanya ada di dalam Kekristenan. Jadi, boleh dikatakan bahwa ini adalah salah satu keunikan agama Kristen. Ajaran seperti ini tidak ada di dalam agama lain. Bukan saja tidak ada, ajaran seperti ini ditentang oleh agama tertentu di mana pemahaman seperti ini dianggap bertentangan dengan natur atau keberadaan Allah itu sendiri.

Allah Tritunggal atau Trinity God adalah pemahaman akan Allah yang memiliki tiga oknum yang berbeda (hypostasis) tapi di dalam satu keberadaan (essensi atau substansi), yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pemahaman ini berbeda dengan Unitarianisme yang menekankan keesaan Allah dan menyangkali oknum Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus sebagai Allah yang setara dengan YHWH.

Hal pertama yang perlu kita tegaskan adalah bahwa kita tidak menemukan istilah Allah Tritunggal di dalam Alkitab. Karena itu, ada sebagian orang yang menolak pandangan Allah Tritunggal karena menurut mereka istilah itu tidak pernah ditemukan di dalam Alkitab, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Selanjutnya, mereka itu menyatakan bahwa ajaran Allah Tritunggal hanya merupakan ciptaan dari bapak-bapak Gereja mula-mula. Benarkah demikian? Jawabnya adalah, memang istilah Allah Tritunggal tidak ditemukan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Jika kita melihat perkembangan doktrin Tritunggal tersebut, memang hal itu tidak terlihat secara jelas dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Umat Allah di dalam Perjanjian Lama malah terus menerus diperingatkan bahwa “Allah itu esa” (Ulangan 6:4). Hukum Taurat pertama dari sepuluh Hukum Taurat menegaskan: “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu” (Kel.20:3). Itulah sebabnya umat Allah di dalam Perjanjian Lama hanya beribadah kepada YHWH.

Sebagian orang menolak doktrin Allah Tritunggal karena menurut mereka hal itu tidak logis. Namun demikian, banyak ahli yang berpendapat justru pemahaman kepada doktrin tersebut sungguh-sungguh logis. Sebagai contoh, bapak Gereja, Augustinus, theolog yang sangat dikagumi dan berpengaruh di zamannya menegaskan bahwa hal itu sesuai dengan ajaran Alkitab bahwa “Allah itu adalah kasih”. Menurut Augustinus, bagaimanakah kita memahami Allah yang adalah kasih tanpa adanya sifat kejamakan di dalam diri Allah? Kasih memerlukan subjek dan objek. Sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk malaikat-malaikat dan manusia, Allah mengasihi siapa/apa? Hal ini menjadi kesulitan bagi mereka yang menolak adanya oknum lain di luar diri Allah (YHWH). Tetapi bagi mereka yang menerima doktrin Allah Tritunggal, hal itu tidak masalah, karena Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Roh, dstnya. Pengenalan kepada self-sufficient and self-dependent God membuat kita dapat memahami bahwa Allah cukup dengan diriNya sendiri dan tidak bergantung kepada siapapun.