Pengisi Acara (7)

Martin Luther, tokoh reformasi abad 16 yang sangat berpengaruh tsb pernah memberikan kalimat yang sangat berkesan: “To know God is to worship God”, mengenal Allah berarti menyembah Allah. Lima abad kemudian, Pdt. Dr. John Chew, mantan rektor Trinity Theological College (TTC), yang sekarang menjadi bishop gereja Anglikan di Singapura pernah menegaskan hal yang sama. Pdt John Chew, yang ketika itu sebagai rektor TTC berperan besar dalam merencanakan kampus baru TTC di Upper Bukit Timah Rd.
Kampus yang tergolong megah itu memiliki perpustakaan dan chapel yang banyak dipuji oleh mereka yang pernah mengunjunginya. Namun demikian, posisi chapel yang berada persis di atas perpustakaan tiga lantai itu, seringkali membuat orang2 tertentu mengeluh. “Mengapa posisi chapel berada di puncak sehingga agak capek naik tangga setiap kali kita beribadah? Tidakkah lebih baik dan lebih praktis sekiranya posisi chapel ada di lantai dasar?” demikian pertanyaan yang muncul. Pada satu kali kesempatan, ketika John Chew memimpin ibadah di chapel tsb, beliau menjelaskan alasan mengapa posisi chapel berada di puncak bangunan. Beliau mengatakan sbb: “Ibadah merupakan ungkapan tertinggi yang disampaikan oleh umat tebusan kepada Allah.

Persiapan itu penting (8)

John Calvin, tokoh reformasi yang sangat terkenal itu pernah mengatakan satu kalimat yang sangat indah: "The ultimate disire of all the believers is to glorify God" (Kerinduan tertinggi dari semua orang percaya adalah memuliakan Allah). Hal senada sudah ditegaskan oleh tokoh reformasi lainnya, yaitu Martin Luther, sebagaimana telah disinggung pada artikel edisi yang lalu: to know God is to worship God. Jika demikian halnya, maka seharusnya dan sewajarnyalah kita melakukan persiapan yang baik di dalam setiap pelayanan yang kita lalukan kepadaNya, jika memang benar-benar kita melakukan pelayanan itu kepadaNya. Kita tidak akan melalukan pelayanan yang dipercayakan sekedarnya saja, atau asal tampil di depan jemaat. Persiapan yang baik seperti itulah yang memberikan mutu yang baik di dalam pelayanan kita, yang tentunya hal itu terutama memperkenankan hati Allah sendiri.

Penulis teringat satu kisah di dalam sebuah retret mahasiswa regional se Sumatera Utara yang diadakan beberapa tahun yang lalu di Wisma Methodist, Parapat, SUMUT. Setelah selesai acara retret tsb, maka sebelum semua peserta dan panitia pulang ke rumah mereka masing-masing, secara spontan saya memberikan pujian kepada panitia atas terlaksananya acara retret tersebut dengan baik.

Benarkah Kita Menyembah Allah? (9)

Saya memohon maaf jika judul tersebut di atas menyinggung perasaan Anda sekalian. Tetapi dengan jujur saya mengaku bahwa judul di atas kadang-kadang muncul di dalam pikiran ketika sedang mengikuti acara puji-pujian di Gereja atau persekutuan-persekutuan tertentu.

Alkitab memang mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap isi dan cara kita menyembah Allah. Dalam kenyataannya, Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang yang kelihatan beribadah, memuji dan menyembah Allah itu, belum tentu mereka menyembah Allah dalam arti yang sesungguhnya. Hal itulah yang pernah diserukan oleh nabi besar, Yesaya pada awal dan akhir kitabnya.
Nabi Yesaya menyerukan: “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?” (Yes.1:11-12) Kita tahu bahwa persembahan sebenarnya ditetapkan Allah sendiri. Namun demikian, persembahan yang sedemikian penting itu, sekarang diprotes oleh Allah.

Page 3 of 3