Menciptakan Pujian Jemaat Yang Baik (4)
Pdt. Mangapul Sagala

Bulan Desember ini kita akan merayakan salah satu peristiwa besar, yaitu hari Natal. Bahkan peristiwa tsb dapat kita sebut sebagai peristiwa ajaib, di mana Allah, pencipta alam semesta datang ke dalam dunia ciptaan. Karena itu, tidak heran jika seluruh umat menyambutnya dengan penuh sukacita. Memang berita natal pertama yang disampaikan malaikat kepada para gembala juga mengumandangkan sukacita. Penginjil Lukas menulis: “... sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat” (Luk.2:10-11). Jadi jelas, berita Natal, adalah berita sukacita. Sukacita yang bagaimana? Sukacita besar (great joy; Yunani, kharan megalen). Sukacita untuk siapa? Sukacita untuk seluruh bangsa.

Jadi jelas, dari sejak awal, berita Natal bukan hanya untuk sekelompok orang, tapi untuk semua orang. Berita yang ditulis Lukas tsb sejalan dengan penegasan Yohanes bahwa Allah mengasihi seisi dunia ini, sehingga Yesus datang untuk seluruh dunia (Yoh.3:16). Bagi kita yang percaya berita Alkitab dengan segenap hati, harus berpegang kepada berita tsb. Dengan demikian, kita singkirkan semua pandangan yang mengatakan bahwa Yesus hanya menyelamatkan kelompok atau agama tertentu.

Pentingnya Buku Pujian Yang Baik (5)
(Pdt. Mangapul Sagala)

Sekitar tiga tahun yang lalu saya melayani pada sebuah Gereja tertentu. Itu adalah pertama kali saya melayani di jemaat tsb. Mengamati kondisi jemaat di Gereja tsb, saya melihat bahwa mereka telah cukup mapan, di mana mereka telah memiliki gedung Gereja yang tetap dengan segala fasilitasnya, dan juga seperangkat alat-alat musik, lengkap dengan keyboard, drum, gitar, sound system yg baik, dll. Namun demikian, saya mengatakan kekecewaan saya kepada Gereja tsb karena mereka belum memiliki hymnal (buku pujian).
Saya kecewa ketika menyaksikan jemaat memuji Tuhan dari kertas-kertas lepas dengan kwalitas pujian yang apa adanya. Pokoknya lagunya rame, enak ditepukin, lagu2nya singkat dan tidak memiliki tema yang jelas! Rupanya, bagi jemaat tsb, hymnal tidak mendapat prioritas penting. Karena itu, sekalipun jemaat tsb sudah cukup lama, hingga saat itu mereka belum memiliki hymnal. Jika jemaat terus menerus memuji Tuhan dengan mengandalkan kertas lepas, maka jemaat tsb terbatas pada lagu pujian pada kertas tsb. Lebih buruk lagi jika pemimpin pujian hanya memilih lagu pujian yang “itu itu juga” serta “apa adanya”, di mana dia memilih lagu2 kesukaannya, yang akibatnya, jemaat dapat merasa bosan, tidak dibangun oleh pujian tsb.

Memperkenalkan Buku Pujian (6)

James Rawlings Sydnor menulis sebuah buku yang sangat menarik yang berkait dengan judul artikel tsb di atas. Buku tsb berjudul, “Introducing A New Hymnal”. Barangkali ada yang bertanya, “Untuk apa menulis buku seperti itu? Pentingkah?” Jawabannya, tentu penting. Mengapa? Karena sebagaimana kita lihat pada artikel yang lalu, masalah yang dihadapi oleh beberapa Gereja tertentu kadangkala bukanlah soal tidak memiliki Buku Pujian (Hymnal) yang baik. Tapi masalahnya adalah bahwa Buku Pujian tsb tidak cukup dikenal oleh anggota jemaat dari Gereja tsb. Akibatnya, anggota jemaat merasa asing dengan Buku Pujian tsb. Dalam hal ini berlaku ungkapan: “Tidak dikenal maka tidak sayang. Makin kenal, makin disayang”. Karena itulah, sangat diperlukan usaha-usaha untuk memasyarakatkan Buku Pujian tsb sehingga dikenal dan kemudian dicintai oleh anggota jemaat.

Sangat disayangkan, tidak banyak orang yang menyadari betapa pentingnya usaha untuk memasyarakatkan (mensosialisasikan) Buku Pujian tsb. Hal tsb dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor adalah karena tidak merasa perlu untuk meningkatkan kwalitas pujian jemaat. Barangkali untuk orang tertentu, cara bernyanyi yang bagaimanapun tidak ada bedanya baginya.

Page 2 of 3