Nyanyian Rohani (1)
ARTIKEL INI TELAH DITERBITKAN DI TABLOID REFORMATA
Pdt. Mangapul Sagala

Dalam beberapa milis (mailing list) yang saya ikuti, saya menemukan diskusi yang cukup seru tentang nyanyian rohani. Menarik sekali mengamati posting yang masuk di milis tsb. Dari berbagai posting saya melihat kenyataan bahwa ternyata pemahaman orang tentang nyanyian rohani sangat bervariasi.

Semula, ketika posting pertama muncul, yaitu tentang reaksi negatif terhadap sebuah ibadah tertentu, saya kira masalahnya sederhana saja. Karena itu, reaksi orang akan relatif seragam. Ternyata saya salah. Berbagai reaksi muncul terhadap posting pertama tersebut yang memunculkan pemahaman yang cukup bervariasi. Reaksi tersebut antara lain mempertanyakan bagaimana sikap yang benar di dalam menyanyikan lagu pujian; diam saja? Apakah diperkenankan melompat-lompat? Lagu seperti apa sih yang menarik jemaat utk senang bernyanyi; lagu-lagu kontemporer yang sifatnya ngepop? ngerep? dangdut? Hymnal? Peralatan musik seperti apa yang sebaiknya digunakan ketika beribadah? Apakah cukup dengan organ/piano? Apakah perlu diiringi dengan band dan seperangkat alat musik lainnya? Berbagai pertanyaan dan pandangan dimunculkan dalam disikusi di milis tsb. Karena itu, kita akan membahas hal-hal tersebut; dengan harapan, pembaca Reformata semakin tertolong dalam mengungkapkan pujiannya dengan baik dan benar.

Manfaat Puji-pujian Rohani (2)

Saya tidak tahu berapa banyak di antara pembaca sudah pernah membaca buku yang berjudul Tortured for Christ, tulisan Pdt. Richard Wurmbrand yang ditulis sekitar empat dekade yang lalu. Dia adl hamba Tuhan yang melayani gereja di bawah tanah di tengah2 paham Komunis yang menentang Injil. Pendeta Wurmrand dipenjarakan selama 14 thn karena ‘memberontak’ kepada pemerintah dengan terus memberitakan Injil di negara Komunis tersebut. Apa hubungannya dengan judul tersebut di atas?
Begini, dalam buku tersebut dia mengisahkan bagaimana umat Allah menderita ketika itu, mereka disiksa dan dipenjarakan karena imannya. Namun demikian, di dalam penjara, mereka terus memuji Tuhan dengan menggunakan ‘alat musik’ borgol yang ada di kaki dan tangan mereka. Mereka terus bernyanyi hingga pengawas penjara datang dan menghentikan mereka. Akibat dari bernyanyi tsb, pengawas menghukum satu orang dengan puluhan kali cambukan sebagai akibat dari pelanggaran tsb. Nah, ini yang menarik, setelah orang tersebut dicambuk sedemikian menderita dan dikembalikan ke ruang tahanan, orang tsb menyerukan agar jemaat kembali memuji Tuhan. Dan setiap kali pengawas datang dan mengganjar satu orang sebagai akibat pelanggaran tsb, orang yang sama sudah siap untuk menerima hukuman tsb!

Lagu Pujian Yang baik (3)
(Pdt. Mangapul Sagala)

Dua tahun yang lalu, dalam sebuah seminar tentang “Puji-pujian Rohani”, seorang peserta mengelompokkan lagu-lagu pujian tertentu kepada lagu gereja Karismatik dan lagu-lagu lainnya kepada lagu gereja GKI. Selanjutnya, dia memberi pandangannya terhadap kedua kelompok lagu tsb.

Meresponi pernyataan tsb maka saya bertanya apakah ada lagu pujian yang dapat disebut lagunya GKI atau lagunya Karismatik. Atau yang dia maksud adalah lagu pujian yang barangkali biasa dinyanyikan oleh gereja GKI atau Karismatik. Kemudian, saya menegaskan bahwa kita tidak boleh mengelompokkan lagu-lagu pujian berdasarkan denominasi tertentu, seolah-olah lagu pujian dari denominasi tertentu itu pasti lagu bagus, sedangkan dari denominasi yang lainnya adalah lagu pujian yang jelek. Dalam kenyataannya, lagu pujian yang dinyanyikan oleh Gereja tertentu ada yang bagus dan ada juga yang jelek. Karena itu, sebaiknya kita sederhanakan pengelompokan lagu tsb menjadi lagu baik dan lagu jelek. Bagus atau jelek dari segi apa? Bisa dari segi melodinya, di mana lagu tsb memiliki komposisi yang jelek, cukup baik dan sangat baik. Tetapi, penilaian baik tidaknya sebuah lagu pujian, tidak semata ditentukan oleh melodinya yang enak untuk didengar atau enak untuk ditepukin, melainkan terutama dapat dilihat dari segi kata-kata atau syair lagu tsb. Artinya, syair lagu tsb minimal memiliki ciri-ciri sbb:

Page 1 of 3