Monday, 24 September 2018
Bagaimana Kristen Berpacaran

(Oleh. Pdt.Mangapul Sagala)

Mengapa kita bicara mengenai berpacaran secara Kristen? Apa tidak cukup dengan berpacaran saja? Mengapa mau dipusingkan dengan embel-embel Kristen? Jawab saya adalah karena seharusnya demikian. Sebagai anak-anak Bapa yang telah mengalami karya penebusan yang begitu mahal melalui kematian Tuhan Yesus (lihat 1Pet.1:18-19), kita harus selalu melihat tindakan kita menurut cara pandang Kristen. Atau lebih tepatnya menurut cara pandang Firman Tuhan. Jikalau kita hanya bicara mengenai berpacaran, maka nilai apa yang akan kita terapkan dalam pacaran tersebut?

Tidakkah kita melihat bahwa kehidupan berpacaran sekarang ini makin tidak karuan, di mana nilai-nilai moral dibuang dari padanya? Tidak jarang kita melihat bagaimana orang mempraktekkan free love, memiliki pasangan lebih dari satu orang sekaligus, gonta-ganti pasangan dengan begitu mudahnya. Itulah yang pernah saya temui ketika masih mahasiswa.

Pada suatu kali, saya ketepatan bertemu dengan seorang teman, serta berbicara mengenai pacaran. Ketika saya menanyakan hari apa dia biasanya berpacaran, maka dia menjawab, tergantung." Dengan si X lain harinya dengan si Y!

Selanjutnya, kita juga melihat tujuan pacaran yang semakin tidak jelas, atau mungkin jelas, tetapi salah. Karena itu, kita dapat mendengar atau menyaksikan orang berpacaran, menganut gaya free sex (sex bebas). Akibatnya, terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti adanya kehamilan, kemudian terjadilah tindakan pembunuhan seperti aborsi! Sungguh menyedihkan melihat kenyataan ini. Menurut sebuah penelitian yang pernah dimuat di media massa, tingkat aborsi (pengguran kandungan) di Indonesia sangat tinggi, khususnya terjadi dikota-kota besar. Kesedihan tidak hanya berhenti di sini, bisa juga hal-hal ini berakibat pada percekcokan yang tajam dan saling melukai serta menciderai pihak yang lain. Itulah sebabnya, kita harus melihat prinsip dan tujuan berpacaran secara jelas, sesuai dengan firman Tuhan. (bersambung)

Prinsip dan Tujuan Pacaran***

Bicara soal prinsip dan tujuan pacaran, tentu saja tidak seperti disebutkan di atas. Ada beberapa prinsip penting yang harus diterapkan dalam berpacaran secara Kristen. Pertama, pacaran tersebut haruslah memuliakan Tuhan. Ini saya sebut dengan prinsip vertikal. Demikianlah Firman Tuhan, "Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu, seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia." (Kol.3: 23). Itulah sebabnya kalau sepasang muda-mudi Kristen sungguh-sungguh menghayati prinsip vertikal ini, mereka sebenarnya akan lebih kreatif mencari kegiatan yang benar-benar memuliakan Tuhan. Mereka akan semakin terdorong dan tegas untuk menolak dan menghindari kegiatan yang nyata-nyata menyakiti hati Tuhan. Karena itu, saya sungguh bersyukur kalau menyaksikan satu pasang anak Tuhan yang bersama-sama melayani dipersekutuan kampus, atau di komisi pemuda gereja. Atau jika menyaksikan mereka melakukan ibadah bersama di Gereja pada hari Minggu. Saya juga bersyukur ketika mengetahui sepasang anak Tuhan yang sedang berpacaran memutuskan untuk bersama-sama menterjemahkan sebuah buku Kristen. Sebagai contoh kongkrit adalah sebuah buku yang dicetak oleh Perkantas mengenai "Bagaimana menyatakan cinta" yang merupakan hasil karya Sutrisna dan Endang (Lily) yang ketika itu sedang berpacaran. Saya juga bersyukur jika menyaksikan sepasang anak Tuhan melakukan pelayanan bersama, yaitu dengan mengunjungi dan mendoakan orang-orang di rumah sakit secara rutin. Kita tentu patut mensyukuri hal-hal tersebut di atas, karena semua itu sungguh menyukakan dan memuliakan hati Tuhan.

Kedua, pacaran harus di dalam kasih. Ini yang saya sebut dengan prinsip horizontal. Tuhan Yesus menyimpulkan isi hukum Taurat dengan mengasihi Allah dengan segenap hati, kekuatan, jiwa dan segenap akal budi (Mat.22: 37). Selanjutnya Tuhan Yesus memerintahkan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat.22: 39). Bapak gereja, Agustinus pernah memberikan satu kalimat yang sangat indah, "Milikilah kasih, maka kamu dapat melakukan segalanya." Kembali kepada pasangan anak-anak Tuhan, jika saja mereka menghayati prinsip horizontal ini, maka tentu mereka akan semakin menikmati hubungan mereka tiap-tiap hari. Semakin hari, minggu, bulan, tahun suasana berpacaran tersebut akan semakin indah; tidak semakin membosankan karena masing-masing menerapkan prinsip kasih tersebut. Bukankah semua mahluk memerlukan kasih? Bukan saja manusia, binatang pun memerlukan kasih sayang. Saya teringat satu pengalaman ketika anak saya si Billy dalam usia hampir tiga tahun bermain-main dengan kucing. Semula, kucing itu bermain dengan baik sekali dengannya. Tetapi kemudian, saya mendengar jeritan. Billy menangis dan berkata, "Papa, kucingnya nakal, Billy dicakar." Lalu saya mendekati Billy dan berusaha menghiburnya. Karena saya sadar bahwa sebenarnya dia suka main-main dengan kucing, maka saya mencoba memberikan pengertian kepadanya bahwa kucing itu tidak nakal, tapi baik, asalkan kita sayang kepadanya. Ketika dia protes tidak setuju, maka saya kembali memanggil kucing itu dengan lembut. "Pus…pus…"seruku. "Ngeong…ngeong…" sahutnya, sambil datang mendekat. Maka saya pegang dan belai kucing itu dengan lembut. Ketika saya belai punggungnya, dia berbalik dengan posisi punggung ke bawah dan telentang melihat ke langit. Lalu saya mengelus perutnya dengan perlahan-lahan. Apa yang terjadi? Terlihat kucing tersebut seperti mau tertidur dengan pasrahnya. Dari situ saya mengatakan kepada Billy, "Kamu lihat, dia tidak mencakar papa, dia malah baring-baring seperti itu. Kita dapat bermain dengan dia terus, yang penting kita harus menyayangi dia," demikian saya melanjutkan. Kembali kepada prinsip horizontal, yaitu hal mengasihi. Jika pria atau perempuan saling mengasihi, dan mengasihi dengan sungguh-sungguh, banyak hal bisa dikerjakan. Kedua pasangan tersebut akan semakin kreatif menyatakan tindakan kasih mereka. Karena saya sangat meyakini, bahwa kasih memiliki gaya bahasa dan tindakannya sendiri, sama seperti benci juga memiliki gaya bahasa dan tindakannya sendiri. Maksud saya, sesungguhnya kita tidak perlu mengajari orang yang sedang saling mengasihi bagaimana mengungkapkan cintanya. Juga tidak perlu mengajari orang bagaimana caranya membenci seseorang. Karena pada kenyataannya, kebencian akan mengeluarkan 'bahasa dan tindakannya' sendiri. Sebagai contoh, orang yang membenci akan terlihat dari wajahnya, lalu dari caranya berespon. Sekalipun mungkin ada saat untuk bersalaman dengan seseorang yang sedang dibenci tersebut, namun gaya bersalamannya pun lain, yaitu gaya seorang yang sedang membenci. Demikian juga dengan kasih. Orang yang sedang mengasihi kekasihnya, tidak sulit untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya, sekalipun mungkin rumahnya jauh; juga tidak sulit untuk mengantarkannya untuk pergi ke rumah teman kekasihnya sekedar meminjam buku, misalnya; juga tidak sulit untuk menterjemahkan buku atau bahan bacaan yang sedang diperlukan oleh kekasihnya tersebut. Orang yang sedang saling mengasihi tidak memiliki kesulitan untuk jalan kaki bersama di kala kendaraan sulit dicari; juga tidak sulit untuk berjalan kaki bersama sambil mendorong vespa/motor yang sedang kempes ban, sekalipun sambil diguyur hujan! Sungguh, hal di atas bukanlah kisah teoritis, yang terlalu ideal "nun jauh di sana" dan yang tidak mungkin dilakukan. Hal itulah yang dulu kami alami dalam masa berpacaran. Saya melihat dan mengamati, hal itu jugalah yang sedang dialami oleh pasangan-pasangan lain yang memang sungguh-sungguh jatuh cinta.

Ketiga, pacaran dalam kekudusan. Prinsip vertikal dan horizontal diatas, sesungguhnya hanya dapat dilakukan dengan prinsip ketiga ini, yaitu hidup dalam kekudusan.Demikianlah Firman Tuhan, "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang adalah kudus, yang telah memanggil kamu. Sebab ada tertulis: kuduslah kamu sebab Aku kudus" (1Pet.1: 14-16). Dalam bagian lain, rasul Paulus juga menegaskan, "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan…Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1Tes.4: 3, 7) Mengapa ada pasangan yang gagal memuliakan Tuhan dalam masa pacaran mereka? Mengapa ada pasangan yang sebelumnya nampaknya begitu penuh kasih, bergaul begitu manis bagaikan madu, begitu mesra dan hangat seakan-akan dunia ini milik mereka berdua, tapi kemudian berakhir dengan sedih serta dengan cucuran air mata? Kemungkinan besar adalah karena mereka melanggar prinsip kekudusan ini dalam pergaulan mereka. Akibatnya, mungkin mereka terlalu bebas bergaul, menerapkan gaya pacaran duniawi yang mungkin sadar atau tidak telah mempengaruhi mereka. Ketika hal itu terjadi, terjadilah 'kecelakaan', lalu hamil dan seterusnya. Hal inilah yang membuat mereka kemudian menghilang dari komunitas atau persekutuan yang selama ini giat mereka ikuti.

Baiklah saya menceritakan sebuah kisah nyata yang cukup menyedihkan. Pada suatu hari, ketika saya selesai khotbah di satu kota tertentu, seorang ibu yang agak tua datang mendekat dan mengajak saya kerumahnya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa saya diajak? Sebelumnya saya tidak memiliki jawaban yang jelas. Ibu tersebut hanya mengatakan, "Saya sangat memerlukan pertolongan bapak, tolonglah datang ke rumah saya." Ketika kami tiba di rumahnya, saya semakin tidak enak karena diajak ke kamar. "Pak, silakan masuk" katanya. Maka saya pun menjawab dengan, "Tidak, di sini saja kita bicara". Ketika itu saya duduk diruang depan. Tetapi ibu itu dengan serius sambil sedih mengajak saya untuk masuk ke kamar, dan mengatakan, "Dia tidak akan mau keluar." Saya pun mengalah, dan ketika saya masuk, saya terkejut melihat seorang gadis manis, mukanya sangat pucat dan sedang hamil! Ketika kami berbicara sekitar satu jam, saya mengetahui bahwa hal itu terjadi sebenarnya sungguh tidak dikehendakinya. Tetapi pada suatu malam, dalam kondisi 'khusus' mereka melakukan hal itu tanpa pernah sungguh-sungguh menduga bahwa hal itu akan membawa kepada kehamilan. Itulah sebabnya dia sudah cukup lama mengurung diri, karena takut mempermalukan dirinya dan seluruh keluarganya. Lebih menyedihkan lagi, ternyata sang pria telah melarikan diri sejauh-jauhnya dan tidak pernah mendengar kabar darinya. Sekalipun demikian, saya memuji Tuhan karena gadis tersebut tidak mau membunuh janinnya, alias menggugurkannya. Dia telah bertekad untuk terus mempertahankannya hingga lahir.

Apakah kasus di atas merupakan kasus yang jarang terjadi, dan hanya terjadi pada orang-orang bejat dan binal? Mungkin sebagian orang berpikir demikian. Ternyata tidak. Kasus seperti ini juga pernah saya temukan dalam diri seorang gadis lain, yang cukup aktif ikut kepersekutuan dan terlibat dalam pelayanan, tetapi juga hamil karena kecelakaan. Namun demikian, sekali lagi puji Tuhan, gadis yang sempat mengurung diri cukup lama ini pun bertekad untuk tidak menggugurkan kandungannya hingga lahir. Allah memang penuh rahmat dan karunia. Apa yang terjadi kemudian? Pacar perempuan tersebut sadar akan perbuatannya dan akhirnya menikahinya dengan cara baik-baik.

Jadi, demi mencegah hal-hal negatif sebagaimana disebutkan di atas, prinsip ketiga ini harus sungguh-sungguh didoakan dan diusahakan. Dengan membangun masa pacaran tersebut dalam kekudusan, masa berpacaran itu akan benar-benar happy ending, dalam arti Tuhan dipermuliakan dan keduanya bahagia karena hidup dalam kasih serta tidak saling melukai dan saling menghancurkan. Saya bersyukur kepada Bapa di surga karena melihat cukup banyak anak-anak Tuhan yang menjalani masa pacarannya dengan baik, dan berakhir dengan bahagia. Itu jugalah yang kami alami. Karena itu, kami merindukan, mendoakan serta mengupayakan agar semakin banyak anak-anak Tuhan yang mengalami masa pacaran yang penuh bahagia dan memuliakan Bapa di surga.

Setelah membahas ketiga prinsip di atas, kita akan melanjutkan dengan tujuan berpacaran. Apa sih gunanya pacaran? Mengingat resiko penyimpangan yang sedemikian besar, sebagaimana disebutkan di atas, apa tidak sebaiknya kita menganjurkan orang untuk langsung saja menikah, dan tidak usah melewati masa pacaran? Saya menjawab dengan tidak. Sekalipun resiko berpacaran dapat terjadi, bahkan resiko itu begitu besar, saya tetap melihat pentingnya berpacaran. Untuk apa? Sebelum kita melihat tujuan pacaran yang sesungguhnya, kita akan memulai dengan apa yang bukan tujuan pacaran. Kadang kadang, dengan melihat apa yang bukan (dari sisi negatif) kita lebih menghayati apa yang ya (dari sisi positif). Pertama, pacaran bukanlah masa untuk pemuasan hawa nafsu! Kalau melihat cara dan gaya beberapa orang yang sedang berpacaran, saya memiliki kesan bahwa mereka berpacaran adalah demi penyaluran hawa nafsu mereka. Itulah sebabnya, dengan penghayatan seperti itu, tidak heran kalau mereka selalu ingin ketemu dengan kekasih mereka pada saat-saat kondisi mengalami 'ketegangan'. Seorang pemuda pernah mengatakan, "Kan enak punya pacar. Kalau lagi 'tegang' ada penyaluran. Gratis lagi!" Sungguh menyedihkan mendengar hal tersebut.

Kedua, pacaran bukan sekedar memberi motivasi untuk belajar atau bekerja. Ada orang mengatakan, "Setelah pacaran, gue jadi makin semangat belajar. Karena itu, cari deh pacar cepat-cepat. Jangan ngelamun terus." Sekalipun mungkin orang ini semakin giat belajar setelah punya pacar (dan itu tentu baik) namun ini tidak boleh menjadi motivasi orang berpacaran. Lalu bagaimana dengan kenyataan adanya orang yang studinya berantakan karena diputuskan pacar? Tidak baik, bukan? Tapi ini juga kenyataan. Akhirnya, pacaran juga tidak boleh untuk mengisi kesepian. "Mengapa gue pacaran, padahal kata orang gue masih terlalu muda untuk pacaran. Habis kalau gue pacaran rame sih, nggak kesepian lagi. Gue bener-bener nggak tahan hidup kesepian. Mangkanye lu juga cari pacar tuh, jadi nggak kesepian," kata seorang pemuda lainnya. Memang benar, bagi orang yang berpacaran dengan benar, hal itu sangat indah. Dunia memang seakan milik mereka berdua, yang lain ngontrak! Namun demikian, hal itu tidak boleh menjadikan pemuda dan pemudi cepat-cepat cari pacar. Kalau dipikir dengan baik, orang yang katanya sedang jatuh cinta kepada pacarnya lalu mendatanginya dengan motivasi yang salah tersebut, sebenarnya sedang menipu pacarnya. Disadari atau tidak. Mengapa? Karena kekasihnya dengan hati 'berbunga-bunga' akan mempersiapkan diri dan berdandan begitu rupa karena kesadaran bahwa kekasihnya mendatanginya karena cinta. Dengan perkataan lain, dia merasa dikasihi di mana memang dia sendiri sangat memerlukan kasih dan perhatian itu. Padahal, kenyataannya? Sebenarnya dia datang bukan karena itu, tetapi dia datang karena sedang kesepian; dan dia tidak tahan hidup dalam kesepian. Jadi, sesungguhnya dia sedang mencintai dirinya sendiri. Agak egois memang.

Lalu apa dasarnya pacaran? Sebagaimana dijawab di atas tadi, dasar berpacaran adalah kasih. Itulah sebabnya, sekalipun ada kemungkinan resiko negatif terjadi dalam pacaran, di dalam kasih hal itu tetap perlu dilakukan. Untuk apa? Untuk persiapan menuju pernikahan. Jadi kita menegaskan di sini bahwa pacaran itu adalah untuk menuju kepada pernikahan, bukan sekedar free love tanpa arah yang jelas. Dalam masa persiapan ini akan terjadi masa penyesuaian. Beberapa hal yang sangat penting kita sebut di sini. Pertama, penyesuaian rohani. Jika pria terlihat cukup dewasa, sedangkan si perempuan kelihatannya masih kanak-kanak secara rohani, maka baiklah masa ini digunakan untuk membawa kekasih tersebut kepada kedewasaan yang semakin penuh. Jangan dibiarkan ketidakseimbangan terjadi. Karena pada saatnya nanti, hal itu dapat menyulitkan keduanya. Demikian juga sebaliknya, perempuan dapat membawa si pria kepada kedewasaan rohani. Hal itu dapat dilakukan dengan mengisi saat-saat pacaran (dating) untuk sharing (membagi pengalaman kerohanian) dan bersekutu serta dengan cara-cara lainnya. Kedua, penyesuaian karakter. Cukup sering kita mendengar adanya keluhan suami istri yang kucok (kurang cocok) dan cekcok dalam keluarganya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebenarnya hal itu sesuatu yang wajar. Maklum, dua orang dari latar belakang yang berbeda menjadi satu. Tetapi seharusnya ketidakcocokan ini dapat diatasi dengan cara 'mencicil' kesulitan tersebut sejak masa pacaran. Katakanlah, apa yang harus dilakukan oleh si wanita jika sang kekasih sedang sangat marah? Apakah menjawabnya dengan sikap marah yang sama? Apakah hal itu memberi jalah keluar, atau malah sebaliknya makin kacau? Kalau begitu, harus dipelajari dan dicoba sikap bagaimana sikap yang tepat. Diam saja? Mungkin itu cara yang terbaik. Sang kekasih dibiarkan dulu mengeluarkan emosinya. Setelah emosinya 'reda', maka dilayani dengan baik, lembut dan penuh kasih. Lalu kapan soal marah tadi diselesaikan? Mungkin bukan saat itu saat terbaik. Tapi mungkin perlu menunggu hingga minggu berikutnya, yaitu ketika telinganya memang sedang bisa mendengar dan ketika hatinya sedang terbuka. Pada saat hati sedang terbuka itulah si wanita dengan kasih memberikan 'pengajaran' apa sesungguhnya yang sedang terjadi, siapa sesungguhnya yang salah dan seterusnya. Mungkin dengan cara ini, akan membawa hasil. Karena memang demikianlah halnya, komunikasi yang baik memerlukan satu persyaratan yang sangat penting, yaitu keterbukaan hati. Jika tidak, silakan 'bom diledakkan,' jika hatinya tetap ditutup, tetap tidak ada gunanya. Inilah pelajaran penting yang perlu dihayati dan diterapkan. Sayang sekali, seringkali orang mencoba berkomunikasi ketika sesungguhnya kedua pasangan tersebut tidak mampu lagi berkomunikasi, atau memang sedang tidak ingin berkomunikasi. Akibatnya, adalah emosi yang saling diluapkan, suara-suara 'gemuruh', piring terbang, pintu dibanting, dan seterusnya…'hujan' deras pun turun membasahi muka.

Ada banyak hal lain yang perlu disesuaikan dalam masa pacaran ini. Termasuk di sini bagaimana menyesuaikan diri dengan kekasih yang pendiam, pemalu, atau kekasih yang sangat talk active (banyak bicara). Memaksa dia untuk tidak demikian? Tentu saja tidak. Karena hal itu tidak mudah, atau malah tidak mungkin terjadi. Jika demikian, maka sikap terbaik adalah menerima kekasih itu apa adanya, dan dengan kasih menyesuaikan diri kepada kondisi tersebut. Hal-hal seperti inilah yang membuat masa pacaran sangat diperlukan. Karena itu, biarlah masa itu dijalani dengan banyak doa dan usaha, semoga segala ketidakcocokan semakin dapat diatasi, dan semakin mudah diatasi ketika memasuki dan menjalani masa pernikahan.

*** Dikutip dari buku saya, Mangapul Sagala, yang berjudul: Bagaimana
Kristen Berpacaran, diterbitkan oleh Perkantas Nasional, divisi
Literatur.

(Pengiriman barang minimal pembelian Rp. 100.000 dengan tambahan ongkos kirim Rp. 15.000/kg untuk wilayah Jakarta)

Bagaimana Kristen Berpacaran (68 hal) Rp. 40.000