Pdt. Mangapul Sagala.
(staf senior Perkantas Jakarta)

Kita bersyukur memiliki kitab Wahyu, khususnya surat kepada ketujuh jemaat. Sesungguhnya, jemaat Tuhan di mana saja dan kapan saja baik sekali membaca, menggali dan merenungkan bagian itu sesering mungkin. Belajar dari surat kepada ketujuh jemaat tersebut, kita semua disadarkan untuk tidak berpuas diri dengan kondisi kita, dimanapun kita berada dan apapun yang telah diraih. Gereja memang seharusnya tidak menilai dirinya sendiri dan berpuas diri dengan sistim nilai yang ditaruhnya sendiri. Biarlah Tuhan sendiri yang memberi penilaian kepada diri kita.

(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)
Apakah itu hari Pentakosta? Pentingkah itu bagi orang Kristen? Jika penting, sejauh mana penting?

Secara harfiah, kata yang berasal dari bahasa Yunani itu berarti "hari ke-50". Bagi orang Yahudi, hari itu penting dan merupakah sebuah keharusan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Tibanya hari Pentakosta berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat Israel merayakan paskah. "Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kau rayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Kel.34:22).

Perlu kita perhatikan bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu merupakah hari yang penuh sukacita dan di mana mereka bersyukur kepada Allah atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepada Allah dengan membawa korban syukur yang merupakan persembahan mereka kepada Allah, sekaligus menyatakan pengakuan mereka bahwa segala yang baik yang mereka terima, berasal dari Allah (baca. Ul.16:11 dan Im.23:17-20).

Jaap C. Levara" wrote:

> Tadi pagi tetangga dekat rumah saya menelpon saya...
> Dia menceritakan kebaktiannya dahsyat banyak kursi
> roda yang tidak terpakai lagi... yang buta dan lumpuh
> disembuhkan.... Temanku yg pergi ke Spore mengatakan
> khotbahnya mantap...
>
> Hari ini aku mau coba ke sana... tetapi harus pagi karena
> macetnya luar biasa... dan parkir juga harus buru buru..
> dan dari MC Donald harus jalan 1 km lebih...

Entah karena sedang kebingungan, seseorang bertanya: “Sebenarnya, masih ada nggak sih yang namanya penyembuhan dengan mukjizat? Jangan-jangan semua itu adalah rekayasa orang-orang tertentu”.

Untuk itu, saya akan menjawab dengan tegas: “masih ada”. Saya menyaksikan hal itu terjadi kepada orang tertentu. Selain itu, mohon izin menyampaikan fakta berikut ini. Ketika salah seorang bere saya (ponakan) mengalami penyakit yang sangat menakutkan, yang membuat ibunya terus menerus menangis dalam perjalanan ke RS, seorang hamba Tuhan berdoa dan berseru kepada Tuhan. Syukur, seketika itu juga terjadi mukjizat. Itu sebabnya, ketika tiba di RS St Carolus untuk memastikan kondisi anak itu, maka si ibu merasa sangat lega ketika dokter mengatakan tidak ada apa-apa.

Bagi kita anak-anak Tuhan, tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mengherankan. Jika kita membaca Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa Allah dapat melakukan penyembuhan secara langsung, tanpa melalui pelayanan medis, baik melalui hamba-hambaNya (nabi ataupun rasul), juga secara langsung oleh Tuhan Yesus. Jadi, kita tidak perlu ragu akan adanya penyembuhan melalui mukjizat.

SEKILAS TENTANG INJIL YUDAS
Oleh:Pdt. Mangapul Sagala

"Injil Yudas? Injil apa lagi ini? Bikin heboh saja!" demikian keluh seorang anggota jemaat. Di pihak lain, seorang menulis: "Injil Yudas akan menggoncangkan Kekristenan masa kini, di mana mereka terlanjur percaya kepada Injil tradisional".

Bagaimana sesungguhnya? Benarkah Injil Yudas bikin heboh? Benarkah itu menggoncangkan kekristenan? Saya akan menjawab dengan sederhana: tergantung orangnya. Bagi orang tertentu, barangkali munculnya artikel dan buku-buku tentang Injil Yudas tersebut cukup menghebohkan dan menggoncangkan.

Page 2 of 5