(Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M.Th.)
Di dalam novel Dan Brown, yang berjudul Da Vinci Code (DVC), Maria Magdalena (MM) dikatakan menikah dengan Tuhan Yesus. Lalu mengapa berita pernikahan itu tidak diketahui oleh Gereja? Menurut Dan Brown, hal ini ditutupi oleh Gereja Roma Katolik untuk melindungi kesucian dan keAllahan Yesus. Dan Brown menulis bahwa MM punya hubungan dengan Holy Grail (HG), yaitu cawan kudus, cawan yang pernah digunakan oleh Yesus ketika perjamuan kudus dengan murid-muridNya. Hal ini mengarah kepada adanya hubungan MM dengan HB (Holy Blood), garis keturunan darah kudus, the Sangreal. (halaman 250). Dari sini Dan Brown melanjutkan spekulasinya tentang kisah HG yang menunjuk kepada garis keturunan Tuhan Yesus sebagai buah pernikahanNya dengan MM. Selanjutnya, Dan Brown menulis bahwa atas tekanan Gereja Roma Katolik kepada MM, maka dia dan bersama anaknya terpaksa melarikan diri ke Perancis.

Dari mana Dan Brown memiliki keyakinan seperti itu? Dia menggabungkan spekulasinya tersebut di atas dengan sebuah lukisan terkenal yang disimpan di Museum De Luvo, Paris. Menurut Brown, sebenarnya, MM ada pada lukisan Leonardo da Vinci (LDV), yang berjudul The Last Supper tsb. Hal itu dilihatnya dari fakta adanya bentuk "V" pada sisi kiri Yesus pada lukisan tsb (hal. 244). Bagi Brown, itu adalah simbol perempuan yang mengacu kepada MM (238). Dan Brown menegaskan bahwa LDV mengetahui rahasia garis keturunan Yesus.

Oleh. Pdt. Mangapul Sagala

Pada sebuah acara pembinaan, dengan kebingungan seorang mempertanyakan pandangan seorang pendeta yang menuliskan bahwa “Yesus tidak benar-benar bangkit secara tubuh, kebangkitan Yesus hanya merupakan sebuah metafora atau kiasan, tulang belulang Yesus ditemukan di sebuah makam di Talpiot”. Dengan sikap yang sama, peserta lain menunjukkan sebuah VCD yang berisi hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. Lalu dengan nada yang lugu peserta pembinaan tersebut bertanya: “Apakah pendeta seperti itu yang dimaksud dengan teolog liberal? Apakah yang dimaksud dengan teologia liberal itu?”

Sebenarnya sulit mendefenisikan dengan tepat apa dan bagaimana teologia liberal. Mengapa? Karena kita tidak sedang berhadapan dengan a liberal theology, tetapi liberal theologies yang beraneka ragam. Namun demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa Liberalisme, sebagaimana nama aliran tsb, adalah sebuah paham yang memiliki kebebasan berteologia, tanpa batasan dan hambatan dari pihak manapun, termasuk dari pandangan tradisional yang telah dianut oleh Gereja pada umumnya. Paham ini seringkali memberikan pandangan atau pernyataan yang bersifat radikal, yang tidak biasa didengar oleh jemaat pada umumnya. Karena itu, bisa dipahami bila ada anggota jemaat yang bingung atau bahkan tergoncang imannya mendengar pandangan teolog liberal tsb. Kaum awam akan beranggapan seolah-olah sikap dan pandangan seperti itu merupakan hal yang baru muncul. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. Mereka yang belajar teologia secara formal mengetahui bahwa sikap yang sama telah dimunculkan lebih dari dua ratus tahun yang lalu.

Menurut theolog besar, Millard J. Erickson, tema yang paling sering diperdebatkan setelah tema kebangkitan adalah tema kelahiran Yesus dari seorang perawan (virgin). Pada akhir abad 19, kelompok Fundamentalist/Konservatif/Injili telah sedemikian berseberangan dengan kelompok liberal/oikumenis/modernist. Menurut kelompok pertama, ajaran Virgin Birth (virginal conception) merupakan ajaran penting dan sangat mendasar yang harus dipegang dengan teguh. Sedangkan menurut kelompok liberal, ajaran tersebut harus ditolak atau ditafsirkan ulang.

Sebenarnya, penolakan seperti ini bukanlah hal baru. Sejak abad permulaan, berbagai kelompok mencoba menggugat dan menolak tema ini. Sebagai contoh, kelompok Ebionit Yahudi dan kelompok Marcion telah menolak ajaran tersebut. Lalu apa yang baru? Yang baru adalah sikap dan metode penolakan tersebut, di mana pandangan yang menolak ajaran tersebut semakin terasa menyusup/memasuki gereja Tuhan, dan para theolog yang menganutnya mulai berani mengatakan penolakan tersebut secara terbuka. Sebagai contoh, seorang bishop dari Inggris yang bernama David Jenkins memberi penafsiran lain dari Virgin Birth dengan menulis: "Some people either simply cannnot understand, or simply will not listen to the point that many of the stories of the Bible are not for "real", not by being literally true, but by being inspired symbols of a living faith about the real activity of God".

Page 5 of 5