Kita perlu mewaspadai seorang pengkhotbah yang telah membingungkan banyak orang dengan minyak urapannya serta pengalaman-pengalaman yang dikisahkannya, seperti bolak-balik masuk surga, Minyak Urapan, visi neraka, dll. Dalam berbagai pertemuan, saya seringsekali bertemu dengan anggota jemaat yang mengatakan kebingungannya mengenai penggunaan minyak urapan.

Pertama, dalam sebuah pembinaan rutin di tempat tertentu, di mana saya berperan sebagai salah satu dari dua pembina, seorang ibu mengisahkan pengalamannya dalam acara perjamuan kudus. Dia mengatakan: "Kok kelihatannya suasana perjamuan kudus menjadi kurang bermakna dan sakral. Orang berebut untuk mengambil roti. Selain itu, orang memasukkan apa yang disebut dengan minyak urapan ke dalam botol-botol kecil dan dibawa ke rumah masing2. Katanya, dengan minyak itu, banyak hal dapat diselesaikan: penyakit akan hilang, dll.

Kedua, beberapa waktu yang lalu seorang ibu bertanya tentang seseorang yang membawa minyak urapan, yang katanya telah didoakan sebelumnya. Minyak urapan tersebut dianggap sanggup menyembuhkan ayahnya yang mengalami penyakit yang sangat parah. Dstnya.

Bagaimana reaksi Anda terhadap judul tsb di atas? tidak setuju? Anda mengerutkan kening?. Atau protes dan marah?. reaksi tersebut wajar saja. Saya tidak menyalahkan Anda atas reaksi tersebut. Sebab kita semua setuju bahwa pemborosan itu tidak benar. Apalagi sebagai umat Allah, yang mengerti anugerah Allah, kita harus menjauhkan diri dari gaya hidup boros. Sebaliknya kita harus melatih diri dan meningkatkan diri dengan gaya hidup hemat.

Namun, Anda juga jangan terlalu cepat menyalahkan saya atas judul tsb diatas, karena hal itu adalah fakta. Hal itu terjadi di kota Betania, ketika Tuhan Yesus diurapi oleh seorang perempuan dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya". (Mark. 14:3)

Ada dua reaksi yang muncul terhadap tindakan tsb.
Pertama, Markus menulis : "Ada orang yang menjadi gusar". Siapakah orang yang menjadi gusar tersebut?. Menurut Penginjil Matius, mereka itu adalah murid-murid (Mat. 26:8). Mereka protes dan berkata "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? (Mark. 14:4).

Exp. 1 Sam. 15
(oleh. Pdt Mangapul Sagala)

Memiliki pemimpin yang benar memang merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri. Betapa bahagianya orang, keluarga, kelompok, institusi, Gereja, masyarakat dan bangsa, bila dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang benar. Tetapi betapa celakanya mereka jika tidak memiliki pemimpin yang benar. Hal itulah yang terjadi sepanjang perjalanan bangsa Israel. Jatuh bangunnya bangsa itu sangat tergantung kepada pemimpin-pemimpin, baik itu pemimpin rohani, maupun pemimpin negara.

Dalam bacaan di atas, kita membaca dengan jelas bagaimana melalui nabi Samuel, Allah dengan tegas menolak Saul sebagai raja (1Sam.15:23). Mengapa? Jawabannya, bukan karena Saul tidak mau bekerja, juga bukan karena dia kurang pintar atau kurang strategi. Alkitab menegaskan bahwa kegagalan Saul terletak pada KEGAGALANNYA MENTAATI ALLAH. Sebenarnya, perintah Allah kepada raja Saul sangat jelas dan mudah untuk dimengerti, juga tidak sulit untuk dilaksanakan: bangsa Amalek harus ditumpas secara total. “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." (3). Tapi apa yang terjadi? Perintah yang sederhana itu tidak dilakukannya, Saul menyisakan ternak terbaik untuknya. Itulah sebabnya hamba Allah, Samuel menegurnya.

Pengantar:
Karena seminar ini diadakan secara khusus untuk membahas buku Purpose Driven Life1 (PDL), maka kita akan membatasi pembahasan pada apa yang dinyatakan oleh Rick Warren dalam buku tersebut. Warren membahas judul tersebut di atas dalam bagian Purpose #1: You were planned for God’s pleasure. Dalam waktu yang sangat terbatas, hanya satu jam, kita akan membahas tema ini yang dibagi oleh Warren menjadi 7 bagian (day 8 – day 14; hal.63-113).

Sebelum membahas bagian ini lebih jauh, pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa buku PDL memang bagus. Tidak heran jika buku yang telah terjual lebih dari 20 juta exemplar tersebut menjadi buku yang telah dibahas secara serial di berbagai Gereja, baik di negeri asalnya, maupun di Gereja-gereja lain, termasuk di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh pembahasan tema-tema yang sangat relevan dan penting dengan cara yang sistematis, baik, dan mudah dicerna. Demikian juga dengan tema penyembahan, Warren membahas bagian ini dengan baik. Banyak hal penting dan mendasar tentang penyembahan dibahas pada bagian ini.

Tetapi buku ini bukan hanya menyampaikan pengajaran penting dan mendasar tentang penyembahan, buku ini juga berisi koreksi. Saya kira, jika pembaca membaca buku ini dengan hati yang terbuka, beberapa hal yang disampaikan dalam bagian ini akan meluruskan pemahaman yang salah yang berkaitan dengan penyembahan. Kiranya Tuhan menolong kita dalam memahami bagian penting ini.

Page 4 of 5