Selama berabad-abad, Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, menjadi sumber penting untuk mempelajari Kristologi (ilmu yang mempelajari tentang siapa Yesus Kristus). Bahkan pada abad 16 tokoh-tokoh reformasi seperti M. Luther menyerukan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi bagi iman, keselamatan dan menjadi dasar dari seluruh doktrin Kristen. Itulah yang kita kenal dengan istilah Sola Scriptura. Istilah lain yang penting berkenaan dengan otoritas Alkitab adalah kanon Alkitab. Ini berarti bahwa Alkitab adalah pengukur, di mana segala etika dan doktrin diukur dari pengajaran Alkitab.

Namun dua abad kemudian, pada akhir abad 18 seiring dengan masa pencerahan (enlightenment), di mana rasio manusia begitu dijunjung tinggi lebih dari sepatutnya, maka pernyataan-pernyataan Alkitab yang telah diterima selama berabad-abad mulai diganggu gugat dan dicoba dibongkar sampai ke akar-akarnya. Hal yang sama dilakukan untuk doktrin Kristologi. Jadi, Yesus Kristus yang telah diakui dan diterima sebagai Allah, oknum kedua Tritunggal juga digugat dan dicoba ditafsirkan ulang.

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Bultmann, yaitu menolak Yesus Kristus yang disaksikan oleh para penulis Alkitab dan hanya menerima apa yang disebut dengan Yesus sejarah telah terjadi dua abad sebelumnya ketika Reimarus mencoba membangun Kristologi yang berbeda dari apa yang dituliskan di dalam Injil. Jadi tema di atas merupakan sebuah tema yang telah dibahas sedemikian lama dan dengan pendekatan yang sedemikian rumit.

Page 3 of 3