(Reformata Juni 05)
(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)

Salah satu perdebatan sengit di dalam bidang theologia adalah yang berkaitan dengan topik Kristologi. Sejak abad permulaan hingga kini, memasuki millenium ketiga, para ahli terus bertanya tentang siapakah Yesus Kristus. Di dalam sejarah hidup manusia, disadari atau tidak, diakui atau tidak, pribadi Yesus Kristus telah menjadi tokoh sentral sepanjang segala abad dan tempat. Seluruh kehidupan Yesus, mulai dari kelahiran, hidup dan karya hingga kematianNya menjadi topik yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Para ahli atau yang merasa dirinya ahli seolah-olah tidak kehabisan energi atau stamina untuk terus menerus mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh Allah, atau sekedar nabi atau manusia biasa yang luar biasa.

Sesungguhnya, kita dapat mengenal seseorang dari apa yang dikatakannya, dari kedalaman pernyataan-pernyataannya. Itulah sebabnya, siapapun dia, jika mau dengan hati terbuka membaca pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus di dalam Injil Sinoptik (Mat-Luk), khususnya Injil Yohanes, pasti memiliki kesan tertentu tentang pribadi Yesus. Bukan hanya kesan, tetapi pembaca akan ditantang kepada sebuah pengakuan bahwa Yesus bukanlah manusia biasa, juga bukan seorang nabi.

Mengapa? Karena siapakah manusia atau nabi yang dapat dan pernah memberikan pernyataan-pernyataan sebagaimana telah dinyatakan Yesus di dalam Injil? Marilah kita lihat beberapa di antaranya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup..." (14:6); "Tidak seorangpun mengambil nyawaKu dari padaKu..."(Yoh.10:17-18); "Sebelum Abraham jadi (was) Aku sudah ada (I AM)" (Yoh.8:58); "Langit dan bumi berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu..."(Mat.24:35; Mat.5:17-18); "Aku menyertaimu sampai akhir zaman " (Mat.28:20); "Dosa mu sudah diampuni " (Mat.9:2); "Engkau akan bersama Aku di Firdaus" (Luk.23:43), dan banyak pernyataan lain yang sejenis itu.

(Pdt. Mangapul Sagala)
Tabloid Reformata Juli 05

Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan jelas siapa Yesus, bahwa Dia adalah Allah yang patut dipuji dan dipuja, namun cukup banyak ahli (scholars) memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Sebagai contoh, izinkan saya mengutip pandangan beberapa theolog tertentu, yang disebut sebagai theolog liberal, khususnya theolog abad lalu yang banyak memiliki pandangan yang sangat negatif terhadap Yesus. Jika kita membaca dan mengamati tulisan-tulisan mereka, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka telah meninggalkan pengajaran Alkitab dan membangun pandangan sendiri yang seringkali bersifat spekulatif.

Page 2 of 3