Kelihatannya, kisah kenaikan Yesus Kristus tidak dilihat begitu penting sebagaimana kisah kematian dan kebangkitanNya. Hal itu bisa dilihat dari sikap umat untuk menyikapinya. Kelihatannya, sepi saja. Syukur di berbagai negara, seperti Indonesia hal itu masih diperingati dan dijadikan hari libur nasional. Lain halnya di Singapura. Hari kenaikan tersebut bukan hari libur. Itulah sebabnya, kantor-kantor dibuka seperti biasanya.

Sebagian theolog memang melihat hari kenaikan tersebut tidak begitu penting. Bahkan ada yang meragukan dan menolak peristiwa tsb dan menganggapnya hanya sebagai karangan dan dongeng dari Gereja mula-mula. Apa alasan mereka? Tentu ada, dan mungkin banyak; antara lain, mereka mengatakan bahwa hal itu tidak ditemukan secara jelas tertulis dalam keempat Injil.

Pengantar
Hari ini, 27 Maret '05 saya bersyukur dipercayakan untuk melayani sebuah kebaktian paskah berbentuk KKR di sebuah Gereja megah di ibukota, Jakarta. Sekitar lima ratusan lebih umat bersorak sorai merayakan hari kebangkitan Kristus tersebut. Setahun yang lalu, saya juga menikmati keindahan dari peristiwa yang sama, di mana hari raya paskah dirayakan pada dini hari di sebuah gereja yang sangat megah di Singapura, dihadiri oleh sekitar 400 orang jemaat. Ketika pada umumnya masyarakat setempat tertidur lelap, ratusan jemaat tersebut dengan gegap gempita mengumandangkan nyanyian-nyanyian kemenangan! Jadi, kemegahan dan keagungan ibadah bukan saja karena kondisi Gerejanya yang sedemikian megah, tetapi juga karena umat yang bersorak sorai menyanyikan "Kristus Bangkit, Soraklah, Haleluya!" Suasana memang menjadi saling mendukung karena sekitar 40 orang anggota paduan suara, yang mayoritas adalah mahasiwa/i dari universitas terkenal, dgn pakaian seragam putih hitam berdiri di depan jemaat dengan posisi saling berhadapan. Sungguh sangat indah dan bahagia, saya sulit melukiskannya dgn kata2, ketika lagu tersebut dikumandangkan secara bersama dan bersahut-sahutan antara ratusan jemaat dgn paduan suara tersebut. Kebaktian yg berjalan 2 jam tersebut diakhiri dgn suasana ceria, penuh sukacita sambil bersalaman mengucapkan, "Selamat Paskah", "Kristus Bangkit". Menyaksikan hal itupun memberi sukacita tersendiri, yaitu ketika melihat jemaat dari berbagai usia spt remaja, pemuda hingga orang tua, dan latar belakang tingkat pendidikan dan sosial, spt siswa mahasiwa, alumni... serta Ph.D(cand)/ Ph.D yg memiliki reputasi tinggi menyatu di dalam semangat persaudaraan. Semua bersama-sama menikmati betapa indahnya berita kebangkitan Kristus itu. Dalam hati saya berpikir, berita kebangkitan bukan hanya milik orang sederhana atau orang2 terpelajar, miskin atau konglomerat, melainkan milik mereka yang beriman.

Mengapa merayakan hari Natal? Jika kita berani jujur menjawab pertanyaan tersebut, maka mungkin kita akan kaget menerima jawaban yang ada. Mengapa? Karena jawaban yang muncul kadangkala tidak ada kaitannya dengan Natal itu sendiri. Itu sebabnya, saya setuju dengan sebuah pernyataan yang mengatakan: “Christmas means a different thing for a different person”. Natal mengandung makna yang berbeda bagi orang per orang. Untuk orang tertentu, hari Natal merupakan saat yang paling menguntungkan untuk mengadakan transaksi dagang (business). Karena itu, segala upaya maksimal akan dilakukan demi mencapai hasil maksimal dari Natal tersebut. Untuk orang lain, barangkali hari Natal merupakan saat yang baik untuk mencari nama dan menjalin relasi. Relasi yang baik akan menolong menuju ke peningkatan karir. Karena itu, orang-orang tertentu akan sangat senang duduk dalam kepanitiaan Natal, misalnya menjadi ketua, walau dia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Dengan posisi sebagai ketua, apalagi dalam perusahaan tertentu, maka itu merupakan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting di perusahaan itu. Dan pada saat Natal berlangsung, orang-orang seperti itu dapat mempromosikan dirinya dengan berbagai macam cara. Kita dapat menyebut contoh-contoh lain, tapi kita dibatasi oleh ruang yang terbatas.

Page 1 of 3