Pdt. Mangapul Sagala
Ada yang mengatakan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah zaman modern dengan gaya hidup hedonis. Maksudnya, sebuah gaya hidup di mana kesenangan dan kenikmatan menjadi tujuan. Benarkah demikian? Jika benar, maka kita harus sadar bahwa dengan gaya hidup seperti itu, jangan bicara soal kebenaran. Juga jangan bicara soal agama dan Tuhan. Mengapa? Karena di dalam kehidupan seperti ini, Tuhan tidak ada; kalaupun ada, dianggap tidak ada. Lalu apa yang menjadi Tuhan mereka? Jawabnya, kenikmatan dan kesenangan itu sendiri. Jika demikian halnya, maka manusia yang hidup di zaman ini tentulah hidup nikmat dan bahagia, bukan? Nah, di situlah masalahnya. Karena dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita menyaksikan bahwa manusia di sekitar kita jauh dari ciri-ciri hidup bahagia.

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Billy Graham, penginjil Amerika yang sangat terkenal itu pernah mengatakan satu pernyataan yang sangat tidak mengenakkan di telinga jemaatnya. Saya yakin pernyataan itu juga tidak enak di telinga kita, namun perlu. Mari kita simak pernyataan berikut: "Sesungguhnya, banyak di antara kita hanya semakin tua, tetapi tidak semakin dewasa." Maksudnya, usia terus bertambah, tapi sayangnya, hal itu tidak diikuti dengan pertumbuhan rohani.

Ada banyak hal yang sangat berkesan ketika kami Tim PA Simpruk ( 16 orang) melakukan pelayanan atau yang disebut dengan mission trip ke Ambarita, Samosir, pada hari Jumat s/d Minggu, 26-28 Oktober ’07 yang lalu. Salah satu yang sangat berkesan bagi saya adalah percakapan antara ibu Sinuhaji br Sembiring (sekitar 60 tahun) dengan istri saya, Junicke Sagala. Hal itu terjadi setelah acara perpisahan, di mana pendeta dan majelis Gereja HKBP Ambarita mengadakan acara jamuan makan pada hari Minggu siang. Pada saat itu, sambil bersalaman, dengan wajah yang sangat ceria, ibu tersebut berkata: “Sampai ketemu di sorga”. Agak kaget mendengar kalimat itu, ibu Junicke menjawab: “Ah, tante, seperti sudah mau meninggal saja. Kita toh masih akan ketemu di Siantar.”

Page 6 of 6