Pdt. Mangapul Sagala
Beragama adalah hak asasi manusia yang sangat mendasar. Itulah sebabnya, setiap pemerintah yang benar dan bertanggung jawab akan melindungi rakyatnya agar memiliki kebebasan dan rasa aman dalam beragama. Kita bersyukur karena negara kita menjamin kebebasan beragama tersebut.

Hal itu telah tertuang dalam Pasal 29 Ayat 2 UUD 45, yang berbunyi: "Negara menjamin kemerdekaan penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."

Apakah yang terjadi dengan dunia ini setelah Allah selesai menciptakannya? Ada beberapa jawaban yang diberikan. Kelompok Deisme mengatakan bahwa setelah penciptaan, Allah membiarkan dunia ini berjalan dengan sendirinya. Bagaikan sebuah mesin yang didesign oleh seorang ahli, mesin tersebut akan bergerak dengan sendirinya, sesuai dengan sistim yang diciptakan di dalamnya. Dengan demikian, Allah tidak terlibat lagi dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang ada dalam dirinya. Dengan kemampuan berpikir yang Tuhan berikan, manusia dapat menghindar dari berbagai bahaya.

Peristiwa pernikahan kedua kalinya seorang kiayi ternama pada minggu yang lalu, rupanya cukup mengagetkan banyak orang. Seorang rekan berespon, “Apa? Dai kondang tersebut menikah lagi? Ah masa sih?” Rekan lain juga menunjukkan reaksi yang hampir sama.
Mengapa rekan tersebut bereaksi negatif? Apakah karena dia ketepatan beragama Kristen? Ternyata tidak. Karena jika kita mengamati berbagai media cetak mau pun elektronik, banyak juga yang non Kristen menentang hal itu. Sebuah harian di ibu kota memberi judul di halaman pertama: “78 organisasi perempuan tolak poligami”. Selain itu, ada puluhan ibu-ibu di kota tertentu siap melakukan demo kepada sang kiayi karena masalah poligami tersebut.

Pertama sekali perlu ditegaskan bahwa judul tersebut di atas tidak bermaksud memprovokasi pembaca untuk bersikap negatif terhadap peran PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) selama ini. Sejujurnya, penulis tidak bermaksud mengecilkan peran PGI, apalagi meniadakannya. Karena memang, perannya jelas ada dan besar. Adanya peran yang besar itu, sebagian dapat dibaca dari dua tulisan terdahulu yang dimuat dalam harian ini secara berturut-turut. Pertama, ditulis oleh Sekretatis Umum PGI, Richard Daulay (Mengesa dan jadi Berkat bagi Bangsa, 26.5.07), dan kedua, ditulis oleh petinggi PGI lainnya, Weinata Sairin, seorang penulis yang produktif (PGI: 57 Tahun Keesaan Gereja. 2.6.07)

Kembalinya seorang artis (Nur Afni) kepada agama lamanya, cukup mengejutkan sebagian umat Tuhan. Betapa tidak? Artis tersebut sudah cukup dikenal dalam kalangan Gereja melalui kesaksian-kesaksian yang diucapkan serta lagu puji-pujian yang dikumandangkannya. Itulah sebabnya, berbagai respons muncul terhadap tindakannya tersebut, mulai dari yang bernada sinis sampai kepada yang bernada teologis. “Ya, sudahlah, buat apa dipusingin, emang dia itu dari dulu tukang kawin kok”, kata seseorang. “Wajar dong, dia kan kawinnya dengan orang kaya. Enak...” kata yang lain lagi.

Oleh: Pdt Mangapul Sagala
Pada waktu yang lalu, ada sebuah diskusi yang cukup seru dalam sebuah mailing list. Topik yang dibahas ketika itu adalah mengenai tempat yang tepat untuk menyekolahkan anak.
Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa ternyata, hal menyekolahkan anak bukanlah hal yang sederhana, sebagaimana dipikirkan oleh sebagian orang. Ada yang berpandangan bahwa anak merupakan masa depan sekaligus menyatakan identitas orang tua. Oleh karena itu, alangkah bijaksana bila menyekolahkan anak ke tempat yang terbaik dan berkualitas.

Page 5 of 6