Tortor Batak - Bona Taon - Adat BatakSemangat kebersamaan dan gotong-royong kini menjadi "budaya baru" internasional. Buktinya? Lihat saja kasus Aceh. Demikian banyak bangsa tanpa pandang agama, bendera politik, bahasa, warna kulit, ras, atau golongan bersatu hati, sepikiran, dan seperasaan bahu-membahu menolong rakyat dan recovery daerah yang mengalami bencana gempa dan tsunami sekaligus. Betapa damainya dunia kalau hal itu terus berlangsung.

Neo Orthodoxy muncul sebagai reaksi terhadap teologia liberal, yang mendominasi pemikiran para ahli teologia pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Nama “Neo Orthodoxy” dikenal di Amerika Utara, sedangkan gerakan yang sama di Eropah disebut “dialectical theology”.

Pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas bangkitnya gerakan liberalisme di Jerman dengan tokoh-tokoh penting, seperti Ferdinand Christian Baur, David F. Strauss, Albert Ritschl, dan Julius Wellhausen.

Dalam ilmu theologia dikenal istilah “Theodicy”, yaitu berasal dari dua kata Yunani: “Theos” (Allah) dan “dikaios” (adil/benar). Istilah tsb pertama kali digunakan oleh Leibniz[1] pada thn 1710. Theodicy dikaitkan dengan usaha kita memahami keadilan dan kebenaran Allah, khususnya dalam masalah dan penderitaan-penderitaan yang terjadi. Pemahaman terhadap “Theodicy” berupaya untuk melihat bahwa di dalam segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi, Allah tetap dipercayai sebagai Allah yang baik dan penuh kasih.

Mengapa ada orang yang hidup jahat dan semakin jahat, hidup egois, serakah, menipu dan tidak perduli dengan sesamanya? Mengapa ada orang yang tega membunuh sesamanya, memotong-motongnya bagaikan memotong seekor ayam dan memasukkannya ke dalam karung atau koper, sebagaimana terjadi beberapa hari yang lalu? Barangkali benar juga kata seseorang bahwa penyebabnya adalah karena banyak orang yang tidak menyadari atau bahkan menyangkali adanya Neraka.

Teolog besar abad 16, John Calvin telah mewariskan banyak hal bagi manusia di zamannya dan setelah itu. Selain menulis buku yang berjudul “Institutio” yang terkenal itu, dia juga telah menulis buku tafsiran dari seluruh kitab Perjanjian Baru. Sungguh merupakan sebuah karya besar, yang hanya sanggup dilakukan oleh segelintir orang. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada orang yang dapat memperhitungkan berapa besar pengaruh John Calvin di zamannya, juga di abad-abad sesudahnya, termasuk di abad ini.

Ada satu pertanyaan penting dan yang terus menerus menggelisahkan saya, yaitu, apakah kita benar-benar serius dalam memperbaiki pendidikan di Republik Indonesia tercinta? Jika benar, apa indikasi yang dapat dilihat?
Bicara soal pendidikan, maka sesungguhnya, tidak dapat dilepaskan dari moralitas. Pendidikan yang baik, terdiri dari moralitas yang baik. Barangkali, hal itulah yang disadari oleh para pendidik tempo dulu. Karena itu, pelajaran budi pekerti menjadi salah satu pelajaran utama.

Page 4 of 6